Selasa, 18 Juli 2017



Selasa, 18 Juli 2017
Apa yang harus kutuliskan? aku sendiri kebingungan untuk memulai dari mana? Atau ingin menuliskan apa? Aku hanya mengikuti petunjuk dari tips menulis yaitu agar kita lancar dan tidak kehilangan ide saat menulis adalah dengan menuliskan apa saja yang ada pada pikiran saat itu juga, dan kini tentu saja ini adalah apa yang ada dalam pikiranku. Dengan terapi menuliskan semua gagasan yang ada di pikiran saat ini dan akan aku konsistenkan setiap harinya dalam beberapa menit atau dalam beberapa halaman. Agar aku lancar dan tidak mudah kebingungan mau menuliskan apa. Dalam satu hari mungkin satu dua sampai lima halaman. Dan akan aku kumpulkan hasil tulisanku ini di dalam file tersendiri setiap harinya. Semacam deary mungkin.

Aku terus menulis saja dan terus menulis bahkan sampai tak acuhkan ibu yang dari tadi menyuruhku untuk sarapan. Aku lupa makan? Oh tidak, aku hanya memberikan kesempatan pada diriku untuk merasakan lapar yang sesungguhnya, seperti yang biasa aku rasakan saat berada di lingkungan kampus dan dunia pergerakan dahulu. Aku juga semangat menulis karena aku mempunyai laptop baru hasil jerih payahku kerja di jakarta beberapa bulan lalu. Aku membelinya bersama dengan kekasihku dan pada hari sabtu kemarin lusa. Ya, aku berdo’a semoga dengan adanya laptop baru meski bukan barang baru alias seken, tetapi mudah-mudahan bisa memudahkan segala urusan, melancarkan rizki keluarga, dan bisa melahirkan karya-karya yang membahana dan bermanfaat bagi dunia.

Aku terus menulis dan akan terus menulis hingga beberapa waktu lagi. Aku akan sarapan pada pukul sebelas siang nanti, yang artinya masih kurang lima menitan lagi. Bagaimana mungkin aku bisa menghentikan laju jemariku yang sedang asyik menari-nari di atas keyboard dan menciptakan beberapa kata yang menjadi kalimat dan menjadi paragraf dan menjadi bacaan untuk diriku sendiri maupun orang lain yang sudi membacanya. Aku akan terus menulis dan terus menulis dan terus menulis.

Dari kemarin aku hanya menulis beberapa kata untuk puisi hasil bacaan kumpulan cerpen kompas dengan judul utama ‘Klub Solidaritas Suami Hilang’ yang merupakan kumpulan cerpen kompas tahun 2013. Aku ingin membuatkan puisi yang merupakan simpulan dari karya-karya tersebut. Dan aku kebingungan kadang mau menulis dan menanggapi seperti ini, aku takut salah, mau seperti itu, takut mengecewakan. Ya intinya sesuai dengan anjuran di buku-buku tentang bagaimana kiat menulis yaitu ya dituliskan saja, apapun jadinya tetap mending ditulis, bahkan jelekpun tetap ditulis. Karya yang meskipun dianggap jelek oleh diri sendiri maupun orang lain tetapi sudah dicipta secara nyata sudah ditulis adalah sangat jauh lebih baik daripada karya yang dianggap hebat namun masih dalam pikiran dan imajinasi saja. Oleh karena itu aku akan berani dan akan selalu berani untuk menuliskan apapun yang ingin aku tuliskan.

Aku kehilangan fokus untuk menyelesaikan satu persatu ide tulisanku. Baru melihat satu judul calon novelku, aku sudah kembali membuka file judul-judul yang lain. Sungguh, ternyata menulis itu akan sulit juga jika terlalu banyak ide yang bersarang di pikiran kita –bukannya kekurangan ide. Tentunya aku harus mensiasati kelemahanku ini, entah bagaimana caranya, apakah aku harus dengan membuat jadwal menulis hingga terselesaikannya satu judul dari karyaku atau aku harus memberi hukuman jika aku sampai telat menyelesaikan satu judul pada tenggat waktu tertentu –semacam memberi deadline untuk tulisanku dari diriku oleh diriku dan untuk diriku sendiri.

Baiklah, aku akan mencoba membuat penyelesaian dari satu judul ceritaku. Aku akan memulainya dengan target judul ‘Catatan Seorang Alayers’ Soe Har Jie. Mengapa aku memilih judul ini adalah karena ini seperti parodi dari judul milih Abang Soe Hok Gie dengan judul ‘Catatan Seorang Demonstran’. Namun aku juga harus memiliki garis besar cerita atau tema apa yang ada di dalam cerita tersebut. Kalau untuk genrenya si jelas itu adalah humor, tetapi seperti aku tahu bahwa aku harus memiliki alur ceritanya dari awal pengenalan hingga akhir. Apakah nantinya akan berisi tentang persahabatan, cinta atau misi untuk apa?

Dan saat ini aku menginginkan garis besar ceritanya adalah dengan pertama menyajikan cerita kami dari kelompok teater, yang dipenuhi romantika persahabatan dan bumbu cinta konyol, yang mempunyai misi bahwa kami harus bisa mendatangkan penulis besar lingkup nasional, yaitu Ahmad Tohari dan Aguk Irawan untuk mengisi acara pelatihan menulis di kampus kami. Konflik yang terjadi adalah cinta segitiga diantara kami, atau perselisihan paham hingga aku dan mereka berbeda arahan. Namun kembali lagi bersatu seperti sedia kala saat pada akhirnya kami sama-sama tahu bahwa rasa cinta dan sayang antara kami adalah karena kami bersahabat. Endingnya adalah saat kami bertiga ikut tampil dalam acara hari ulang tahun kabupaten. Gagasan ini bisa diubah sambil jalan saja, akan tetapi aku juga harus mematok waktu selesainya sebagai target. Dan aku putuskan untuk menyelesaikannya hingga akhir bulan juli ini. Aku sebenarnya tidaklah memaksa diriku, hanya saja jika bisa selesai pada saat itu ya apa salahnya. Toh itu sangat membantuku membahagiakan orangtua jika aku cepat-cepat bisa sukses.

Seharian ini aku tidak kemana-mana, tidak keluar rumah bahkan kecuali saat membeli rokok yang harganya satu batang sekitar enam ratus rupiah, itu saja karena aku tidak tega untuk menyuruh ibu untuk membelikan rokok di warung bulekku. Aku juga tidak pergi ke kali masjid padahal biasanya kalau aku di rumah sehari sekali tentu saja aku pasti ke sana untuk mencari inspirasi merenung di kamar mandi atau toilet. Hari ini aku habiskan untuk mengetik dan membaca buku serta menonton video. Mandi juga aku di rumah. Seorang teman mengirimkan puisinya kepadaku, untuk kunilai apakah itu sudah termasuk kata-kata yang bagus atau belum, wah belum apa-apa aku sudah sok-sokan menjadi seperti ahli sastra, ya mungkin teman-temanku menganggapku demikian, padahal aku belum mempunyai karya satu pun. Bagaimana mungkin aku bisa menyikapi hal demikian jika aku tidak terlalu percaya diri mengabdikan diriku untuk sastra Indonesia, meski aku juga tidak mempunyai riwayat pendidikan yang sesuai dengan jurusan sastra. Tapi bukankah sastrawan bisa lahir dimana saja tempatnya, bahkan seorang anak petani atau pemulung pun tidak menutup kemungkinan menjadi seorang sastrawan besar.

Temanku atau yang lebih aku suka untuk kupanggil sahabat, tadi mengirimkan puisi yang menurutku masih biasa saja, tetapi memang mempunyai nilai yang dia tawarkan. Ia mungkin baru saja membaca sepotong senja untuk pacarku karya Seno Gumira Ajidarma, tetapi aku rasa kata-kata yang terangkai masih banyak wagunya. Pengemasan kalimatnya juga belum rapi, jauh memang dari kata sempurna seperti sastrawan ahli puisi yang sudah matang. Namun aku yakin jika ia terus semangat ia pasti bisa memperbaikinya lagi dan lagi hingga sempurna. Aku hanya memberi komentar untuknya agar ia bisa lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD atau kaidah yang berlaku. Karena sebaik-baiknya puisi yang ia cipta jika bahasanya masih menggunakan kalimat sms tentu saja akan mengurangi nilai estetika yang dikandung oleh sastra tersebut, oleh karena itu hal pertama yang harus diperhatikan oleh penulis pemula seperti aku dan dia ini adalah memperbaiki susunan kalimat dengan menggunakan KBI yang baik dan benar.

Hari ini aku menuliskan puisi untuk Agus Noor diinspirasi dari cerpennya yang berjudul "Ulat Bulu & Syekh Daun Jati".

ini adalah foto yang aku upload di akun Instagramku @ilkhassuharji dengan caption: "Untukmu, semoga bisa mengalir dalam nadiku." Foto ini mendapatkan like dariakun Agus Noor :-)
 
Aku membayangkan apabila aku selama beberapa bulan akhir ini akan terus di rumah dan hanya menulis, makan tidur, menulis membaca makan tidur, apakah nantinya keluargaku akan betah menghadapiku? Sepertinya ibuku sudah sangat menginginkan aku bisa segera bekerja kembali dan menghasilkan banyak uang untuk mencukupi kebutuhan hidupku sendiri, bahkan bapak juga menginginkan agar aku bisa segera memberinya cucu, ia sudah tua dan ingin segera menimang cucu dariku. Oleh karenanya aku diminta segera merubah pola pikirku dan segera bisa bekerja serius untuk mengumpulkan uang dan mempersiapkan pernikahanku, terlebih lagi kemarin-kemarin memang aku membawa pacarku ke rumah bahkan ia sampai menginap satu malam, sehingga kata bapak; ‘eman-eman mumpung wes gelem dijak mrene kui tandane bocahe wes gelem nrima sira apa anane, mulakno enggal dibojo aja mung dimori tok’. Ya doakan saja pak bu semoga aku bisa segera sukses bisa membuat banyak buku dan bisa mendapatkan penghasilan dari hasil karyaku ini.

Memang tak mudah untuk mencapai mimpi, tetapi aku akan selalu yakin bahwa aku kelak akan bersanding dengan deretan penulis-penulis besar dunia. Jika memang ada rumusan bahwa untuk menguasai suatu bidang hingga bisa dikatakan sebagai seorang ahli maka ia memerlukan sepuluh ribu jam untuk belajar di bidangnya, maka aku akan melakukan hal yang lebih dari itu. Aku akan melakukan pembelajaran di bidangku ini dengan sepenuhnya dimulai saat ini hingga suatu akhiran nanti yang memisahkan diriku dengan duniaku ini. Ah ini merupakan suatu kepercayadirian yang terlalu muluk, akan tetapi aku harus melakukannya. Ya, harus dan terus saja aku akan menulis hingga aku bisa hidup dan menghidupi kehidupanku dengan tulisan hasil aku menulis. Aku yakin. Aku yakin. Aku yakin.

Ada banyak contoh orang-orang yang pernah aku temui secara nyata dan bisa membanggakan keluarganya dengan menulis. Habibburrahman misalnya, beliau pernah sampai diminta oleh ibunya agar setiap pagi pergi kemana saja yang ia mau asalkan tidak di rumah, karena tetangganya tidak tahu bahwa menulis adalah pekerjaannya dan bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun termasuk di rumah, sehingga para tetangganya mengira bahwa ia yang lulusan Kairo malah menganggur di rumah. Akan tetapi beberapa waktu kemudian ia mampu membuktikan diri dan hingga membuat tetangganya kagum dengan pekerjaan beliau sebagai penulis. Lalu Aguk Irawan, seorang pemuda dari kalangan biasa yang pernah mondok di Kairo juga, pernah menggelandang dan galau karena cintanya ditolak oleh gadis pujaannya. Akan tetapi dengan menulis ia mampu membeli rumah dan menghidupi keluarganya bahkan sampai membuat pondok menulis di Jogja. Ia juga pernah ditolak oleh Gramedia akan tetapi ia juga bisa membuktikan bahwa tulisannya pantas dan sudah difilmkan beberapa kali. Lalu Abah Ahmad Tohari, beliau merupakan gus dari sebuah desa di daerah Banyumas, pemuda desa yang senang menulis sejak kecil, mengangkat kisah pedesaan dan kini membuat daerahnya tersebut bisa dikenal oleh banyak orang seIndonesia, ia juga bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga pendidikan tinggi kedokteran dan sekolah lainnya dengan hasil ia menulis. Lalu aku? Tentu saja bisa seperti guru-guruku itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamis, 20 Juli 2017

Rabu, 26 Juli 2017

Minggu, 10 September 2017