Jum,at, 21 Juli 2017



Jum’at, 21 Juli 2017

     Hari ini aku mulai mengetik ketika sudah menjelang waktu setengah delapan malam, dari tadi aku hanya membaca buku dan melamun, serta merencanakan sketsa cerita. Sebelum jum’at aku bahkan hanya bermain-main dengan handphone ku dan tak menyentuh keyboard laptopku sekalipun. Hari ini aku hanya menuliskan pada buku ku tentang target dan perencanaan atau bisa dibilang strategi untuk membuat naskah novel islami dan satunya lagi adalah cerpen panjang untuk mengikuti lomba cerpen eksperimental yang diselenggarakan oleh basabasi.co. Ya, dan sebelum jum’atan aku hanya melanjutkan membaca skrip ‘Aku’ dari Sjuman Djaya.

Meskipun ada sedikit rasa malas untuk menulis, aku tetap memaksakan diriku untuk menulis di sini barang empat sampai lima halaman. Sengaja aku paksakan diri agar menjadi kebiasaan nantinya menulis setiap hari minimal lima halaman perharinya. Tadi juga sempat mengedit sebagian naskah yang baru selesai 20 halaman untuk calon novelku yang bergenre islami. Entah nantinya akan aku beri judul ‘Cahaya Keindahan Malam’ atau apa, tergantung bagaimana kelanjutan cerita yang kini masih mencapai 12,5 persen saja. Calon novel ini akan menceritakan seorang pemuda alim yang menjadi idola gadis-gadis solikhah di sekitarnya. Hal yang ingin disampaikan pada novel ini adalah hegemoni mengenai karakter seorang pemuda yang baik itu seperti apa, dan bagaimana ia bisa mengatasi segala sesuatunya dengan memasrahkan segalanya hanya kepada Allah –Tuhan semesta alam.

Pada waktu aku sedang tiduran ba’da jum’atan di ruang depan, ada suara seperti ada sesuatu yang jatuh di depan rumah, dan ketika aku lihat ternyata itu adalah buah nangka sabrang atau sirsak yang sudah terlalu matang sampai jatuh dari pohonnya –pohon sirsak itu memang sudah besar dan beberapa kali berbuah setelah beberapa tahun yang lalu bapak menanamnya tepat di depan rumah. Untung buah itu jatuhnya tepat ketika ada orang di rumah dan langsung ketemu olehku, kalau tidak tentu sudah jadi makanan ayam dan tentu saja kotor.

“Buuu, ibuuu!” Aku panggil ibu yang sedang tiduran di kamarnya.

“Iya, ada apa nak?” tanya ibu ketika membuka pintu kamar.

“Ini bu, baru saja jatuh dari pohon.” Kataku menyerahkan buah itu kepada ibu.

“Oalah sudah matang to? Ya sudah ayo dimakan nak!” ajak ibu yanglalu ke dapur mengambil piring untuk tempatnya.

Ibu tidak perlu memakai pisau karena memang buah itu sudah terlalu matang dan hanya dengan tangan saja mudah dibuka dari kulitnya.

“Ini untuk mbah Tamim ya nak, biar ibu antarkan.” Kata ibu seusai mengambil sebagian buah itu dan lalu mengantarkan kepada simbah yang rumahnya tepat berada di samping rumahku.

Tepat saat ibu sedang ke tempat mbah Tamim, wo Tar lewat di depan rumah mau ke warung, aku menawarinya untuk makan sirsakitu, lalu ia hampiri dan duduk sejenak sambil menikmati buah itu. Beberapa menit kemudian seorang tetanggaku juga lewat dan ibu menawarinya untuk makan buah itu, ia bersedia untuk mampir dan ngobrol banyak sampai sore dengan ibuku bahkan sampai bapak pulang dari kerja di sawah. Mungkin buah ini memang rejekinya banyak orang.

Oh ya, tadi pagi ketika Wo Sul datang ke rumah bersama dengan cucunya yang masih bayi, ibu bercerita tentang aku waktu masih kecil. Ada tradisi kurung bayi, atau dalam sebutan desa kami dinamakan ‘Dun-dunan’, yaitu tradisi selamatan saat si bayi pertama kali disentuhkan oleh orangtuanya ke tanah, dan kemudian bayi itu dikurung dalam sejenis kurungan ayam, lalu disediakan beberapa barang-barang rumah agar nantinya diambil oleh si bayi, benda yang pertama diambil oleh si bayi itu ditengarai menjadi profesi atau keahlian si bayi kelak setelah tumbuh menjadi orang dewasa.

“Kalau Harji dulu waktu dun-dunan, benda yang ia ambil pertama itu adalah bulpen lalu buku.” Kata ibu waktu ditanya oleh Wo Sul perihal diriku waktu masih kecil.

Oh, apakah benar demikian, apakah nantinya aku memang akan menjadi seorang penulis besar? Yang menciptakan karya buku-buku yang berpengaruh bagi dunia? Oh, aku tak tahu kepastiannya. Tuhan yang akan membimbingku menjadi apa pun yang Tuhan kehendaki, jikapun memang seperti itu, aku akan mempercayainya sebagai sugesti dan penyemangat diriku untuk berkarya dan bisa membanggakan kedua orangtuaku, terutama ibu.

Bukan hanya waktu kurungan saat dun-dunan itu saja aku diprediksi akan menjadi seorang yang kerjanya sebagai penulis. Dulu saat Wo Sudi dari Tlahap Temanggung –yaitu kakak perempuannya ibu- sering dirasuki dahyang dari pantai selatan yaitu Nyai Roro Kidul. Ibu pernah bertanya perihal diriku kelak ketika aku sudah dewasa.

“Pithik lanangmu iku apik, sesok bakalan dadi wong sek kerjane mung nulis-nulis, tapi tetap biso mulyakke awakmu, tak dongakno dadi wong kang migunani, rejekine akeh, lan biso urip mulyo.” Begitu kata ibuku menirukan suara Nyai Roro Kidul yang sedang merasuki tubuh Wo Sudi –ketika ibu menceritakan ulang kepadaku.

Malam ini, ketika aku sedang mengetik di ruang depan sambil menemani ibu nonton acara favorinya seperti kemarin –bapak masih ngaji di tempatnya mbah Komedhi,  Tia –adikku menelpon. Ibu dan Tia mengobrol hal-hal yang dari kemarin pertama telpon sampai sekrang sama saja, yaitu pertanyaan; ‘Kamu sedang apa? Sudah makan belum? Makan sama apa? Majikan kamu baik nggak? Teman kerja kamu baik nggak? Kamu tidur jangan malam-malam ya!’ dan jawabannya juga sama saja, hanya di-iyakan- dan dijawab baik oleh adikku. Yah, aku juga senang saja melihat kelucuan ibu dan adikku saat telponan.

Aku masih mengetik ketika ibu pulang dari warung dan memberikan sebungkus rokok Aroma isi dua belas.

“Ini nak, rokok dari Bibi Yah untuk kamu!” kata ibu memberikan sebungkus rokok warna kuning kepadaku, itu adalah rokok pemberian dari bibi Yah –pemilik warung yang rumahnya bersampingan juga dengan rumah kami.

“Oh, iya, terimakasih.” Jawabku menerima.

“Bibi Yah itu kalau sama kamu baik banget ya nak.”

“Iya bu.”

“Besok kalau kamu sudah jadi orang yang sukses, kamu jangan sampai lupa pada bibi kamu itu ya, kalau kamu sudah sukses kamu bisa membelikannya buah-buahan seperti anggur apel atau pir. Kalau roti ndak usah nggak papa, kalau roti bibi mah sudah punya banyak, buah-buahan saja ya!”

“Hehe, iya bu, aamiin.” Jawabku mengamini, ya dengan doa dan ridho ibu aku pasti bisa sukses dan membuat ibu bangga punya anak sepertiku.

Sembari menulis ternyata godaan untuk melihat handphone sungguh tak bisa aku tahan lagi, terlebih dari tadi suara notifikasi dari handphone ku terus berdering. Ya, akhirnya aku harus merelakan tulisanku untuk sementara waktu aku tinggalkan, dan langsung aku ambil handphone, memang benar ada banyak pesan whatsap dan dari instagram yang masuk, aku lihat satu persatu. Whatsap dari grup-grup yang aku ikut di dalamnya sedang ramai, ada dari Keluarga Cemara, Teater Banyu, FKJW-P (Forum Komunikasi Jurnalistik Wonosobo Pelajar), FPMW (Forum Pemuda Muslim Wonosobo), dan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Bumi Kebhinekaan, serta Sanindo (Santri Indonesia). Aku ikut nimbrung di dalamnya dan memberi komentar di beberapa grup, paling banter di Keluarga Cemara yang memang lebih asyik dan serasa benar-benar satu keluarga di grup ini. Di grup ini juga aku kabarkan tentang blog yang berisi catatanku ini kepada mereka. Biarlah mereka mengetahui bagaimana suka duka ku dalam proses penulisanku.

Malam hampir memasuki pukul sebelas, dan aku merasa harus buang air, tak mungkin di rumah maka aku meminta Bapak untuk menemaniku pergi ke kali –sebutan untuk toilet dan kamar mandi- masjid, aku sebenarnya tidak takut hanya saja tadi siang aku melihat ada klasa –sejenis tikar dari anyaman mendong- bekas membungkus mayat masih di jemur di pelataran masjid.

“Bapak mau ke kali nggak pak?” tanyaku yang sebenarnya meminta diantar.

“Enggak, bapak kan baru saja dari sana.” Jawab bapak. “Kenapa? Kamu mau ke sana? Berani nggak? Masak sudah gede gitu nggak berani.” Tanya bapak setengah meledek.

“Sebenarnya si berani pak, cuman lagi pingin ditemenin bapak, hehe.” Jawabku, “Tadi soalnya aku melihat ada klasa baru pak, barangkali masih ada di sana kan jadi kebayang yang enggak-enggak. hehe” Manjaku.

“Ya sudah, ayo bapak antar!”

Aku dan bapak akhirnya berangkat ke kali masjid, tak lupa aku membawa satu batang rokok dan handphone karena siapa tahu di wc dapat inspirasi menulis seperti yang sudah sering terjadi selama ini. Bapak aku tawari untuk membawa juga rokokku sambil menunggu.

“Ini pak, biar nggak jenuh nunggunya, aku kan suka lama kalau sudah di toilet.” Aku menawari bapak rokok dan telah aku ambilkan satu batang kepadanya.

“Enggak, puntung rokok bapak baru saja bapak matikan. Nggak papa kok lama, biasanya juga gitu kan.” Bapak menolak tawaranku tetapi beliau juga sangat mengerti kebiasaan anaknya ini. Haha.

Di tengah jalan, aku memandang bapak yang sudah semakin menua saja setiap harinya. Dalam batin aku mengatakan kepada diriku sendiri, bahwa aku harus segera mungkn sukses secepatnya agar bapak bisa ikut menikmati kesuksesanku ini lebih lama, dan bapak juga bisa bermain-main dengan cucunya, bahkan kalau bisa sampai cucunya yang berarti anakku menikah pun bapak harus masih ada dan bisa membersamai kami selalu.

“Pak, tidak lama lagi desa Talunombo ini akan terkenal dimana-mana karena buku-buku dan tulisanku pak.” Kataku tiba-tiba tanpa perlu ditanya oleh bapak, bapak hanya tersenyum dan mengangguk.

“Aku akan menulis hingga orang-orang akan mengetahui bahwa dari desa ini ada seorang penulis besar kenamaan dan kebanggan Indonesia di kancah dunia.” Kataku semakin meyakinkan.

“Memangnya tulisanmu itu sudah dikirimkan ke penerbit nak?” Tanya bapak sambil lalu saja.

“Hehe, belum si pak, tapi tak lama lagi juga pasti selesai dan akan aku kirimkan kok pak.” Jawabku yang hanya ditanggapi seulas senyum saja dari bapak.

Sesampainya di kali masjid, aku langsung menuju wc sedangkan bapak menunggu di tempat yang biasa digunakan untuk wudhu. Lama aku merenung di dalam wc dan karena tidak mendapatkan inspirasi yang muncul, aku malah memainkan game di handphone. Lumayan lama sekitar lima belas menitan aku selesai keluar dari wc dan melihat bapak sedang ngobrol dengan tetangga yang rumahnya tepat pinggir kali masjid, entah apa yang dibicarakan mereka, aku hanya menangkap satu hal, yaitu bapak di situ karena mengantarku. Kubiarkan bapak ngobrol dengan tetangga itu sembari aku mengambil air wudhu –aku belum shalat isya. Selesainya aku panggil bapak dan kami berjalan pulang.

“Naaak, kamu kalau ingin segera sukses dan mudah dikabulkan cita-citamu, kalau waktu subuh itu kamu tak boleh bermalasan untuk bangun, kamu harus bergegas shalat karena do’a waktu subuh dan maghrib itu mustajab, mumpung kamu juga belum banyak dosa, pasti mudah dikabulkan apa yang kamu inginkan. Atau kalau bisa malah tengah malam itu kamu shalat.” Nasehat bapak yang dikatakan beliau secara tiba-tiba tanpa aku minta. Satu hal yang pasti dikatakan oleh bapak ketika menasehatiku ialah beliau pasti masih menganggap aku ini belum banyak dosa, dan itu malah membuat aku semakin teringat dosa-dosaku selama ini –yang jarang shalat lah, jarang ke masjid, puasa kadang bolong dan sebagainya. Tetapi kesan bapak yang selalu menganggap aku ini masih sedikit dosanya aku amini saja, siapa tahu ini menjadi keridhoan Allah untuk mengampuni dosa-dosaku. Aku berdo’a juga semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa orangtuaku dan menyayanginya sebagaimana mereka menyayangiku selama ini. Rela mengorbankan semuanya untukku. Ah, aku jadi teringat betapa mengecewakannya aku yang malah gagal kuliah padahal Bapak Ibu sudah sampai menjual sawah dan banyak hutang sana-sini hanya ingin menjadikanku seorang sarjana. Aduuuh, mengapa balasanku seperti ini pada mereka. Maaf.

Masih di pertengahan jalan, bapak memunguti beberapa benda yang terbuat dari plastik seperti botol minuman dan peralon bekas di tempat sampah, bagaimana mungkin hal itu tidak membuatku terharu, bapak memang selama ini, semenjak pabrik kayu kecamatan itu sering tidak beroprasi dan akhirnya bapak keluar, pekerjaan bapak sehari-hari menjadi buruh mencangkul di sawah para tetangga –sering juga tetangga desa, dan kalau malam bapak biasa mengorek-orek tempat sampah di sekitar jalan dekat rumah untuk mengais barang bekas dari plastik untuk dijadikan rongsok yang ia kumpulkan dan kemudian setelah menjadi banyak beberapa karung ia jual, sebagai tambahan penghasilannya. Terlebih lagi sekarang ibu juga kerja di pabrik kayu itu sering diliburkan, bahkan diliburkan dari mulai puasa kemarin sampai besok baru masuk lagi sekitar tanggal 20 agustus nanti, masih sangat lama, sehingga penghasilan bapak yang tidak seberapa dari hasil mencangkulnya ini akan dimakan bertiga, aku ibu dan bapak. Adikku sekarang bekerja di Jakarta, berangkat sekitar hampir dua minggu yang lalu. Oleh karena itulah, aku harus menulis dan terus menulis agar tulisanku bisa segera menjadi buku dan bisa terbit lalu bisa membantu keluargaku untuk minimal bisa mencukupi kebutuhanku sendiri.

Aku tidak atau belum bekerja, karena aku ingin mencoba konsentrasi menulis terlebih dahulu. Aku juga sudah memahamkan serta meminta restu dari bapak ibu mengenai hal ini, aku akan mencoba membuktikan bahwasannya aku kan bisa menghasilkan karya dengan menulis ini dalam waktu sampai awal januari tahun depan, dan jika sampai tahun depan aku masih belum mempunyai karya yang bisa dihasilkan maka aku akan menuruti semua perintah dari ibu, kalau disuruh kerja aku akan langsung mencari kerja dimanapun dan kerja apapun sekehendak ibu meridhoiku. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri dan ibu semoga saja aku bisa menepati janjiku untuk bisa segera mempersembahkan buku karyaku ini kepada ibu dan orang-orang yang aku cintai. Aamiin.

Aku masih menulis sampai kini waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Ibu dan Bapak sudah sare dari tadi menjelang tengah malam, aku masih menulis dan membuat target harian untuk mengerjakan apa-apa yang harus aku lakukan besok. Dan ini adalah lima hal yang harus aku lakukan:

-    Shalat lima waktu
-    Menulis minimal dua halaman untuk cerpen eksperimental
-    Menulis minimal lima halaman untuk catatan harian
-    Membaca buku minimal 50 halaman (terserah buku apa saja)
-    Evaluasi target hari ini dan membuat target hari selanjutnya

Aku juga membuat peraturan baru untuk diriku sendiri, yaitu aku baru boleh merokok satu batang rokok apabila aku sudah membuat minimal satu halaman tulisan, kalau belum menulis minimal satu halaman tulisan standar maka tidak boleh merokok. Dan rencana peraturan ini akan menjadi program yang semakin meningkat semisal bulan depan baru boleh merokok apabila sudah menulis dua atau seterusnya menyesuaikan tingkat kalancaran menulisku setiap harinya.



Ini adalah foto yang tidak aku upload di instagram dengan akun @ilkhassuharji, sengaja tidak atau belum aku upload karena ya belum waktunya saja, aku hanya mengunggahnya di blog ini saja dulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamis, 20 Juli 2017

Rabu, 26 Juli 2017

Minggu, 10 September 2017