Rabu, 26 Juli 2017
Rabu,
26 Juli 2017
Dua
hari terakhir ini aku tidak menulis di catatan harian ini, entah itu karena
kemalasanku atau karena fokusku yang sedang menggarap proyek cerpen
eksperimental yang insyaallah akan ikut dilombakan. Sebenarnya saya agak sangsi
mengenai karya yang diperlombakan ini, tetapi tujuanku bukan untuk melihat
sastra mana yang lebih baik daripada karya sastra yang lain, bukan itu
pastinya, aku memahami bahwa lomba karya sastra ini adalah untuk memacu
semangat dan komitmen dalam proses berkarya agar tidak ketinggalan dengan yang
lain. Intinya memang pada bagaimana kita memaknai segala hal. Termasuk
perlombaan, apakah difungsikan untuk hal baik atau berniat jelek.
Ah,
aku kesulitan untuk meluncurkan tulisanku ini, apakah ini terpengaruh oleh
kemandekanku menulis dua hari kemarin? Atau juga tepengaruh dengan gaya
kepenulisan yang aku gunakan untuk menulis cerpen eksperimental itu. Dalam
menulis cerpen aku merasa harus berpikir keras dan menata sebaik-baiknya
kalimat sehingga menjadi tulisan yang padat tetapi memikat, namun ini juga
mengakibatkan aku harus menulis dengan pelan-pelan dan berhati-hati, sedangkan
di catatan ini aku terbiasa menulis dengan bebas tanpa tendensi apapun,
sehingga biasanya sangat lancar dan cepat, tetapi tidak saat ini. Aku
menuliskan catatan ini pun juga pelan-pelan, lambat dan banyak kebingungan.
Aku
tidak menyesal dengan ketidakmenulisanku dua hari kemarin, tetapi aku juga
menyayangkan jika hasilnya seperti ini, sangat terasa bedanya. Sehingga sebisa
mungkin aku tetap akan menuliskan catatan ini dalam keadaan apapun, termasuk di
sela-sela waktuku saat menuliskan tulisan yang lebih serius daripada catatan
ini. Karena dengan menulis catatan ini, aku terus berlatih mengembangkan teknik
menulisku, karena di catatan ini kebebasan sangat dijunjung tinggi dan
diutamakan. Sehingga aku bisa menulis dalam model apapun dan bagaimanapun. Ini
juga bisa untuk melatih kecepatan mengetikku hingga semakin lancar dan tidak
terjadi kram jari padaku. Memang, mungkin tulisan dalam catatanku ini tidak
begitu berkualitas karena aku kadang ngawur nulisnya, memakai bahasa baku dan
bahasa ngawur atau campurannya, tetapi ya nggak papa, itu kan urusanku sendiri
dengan tulisanku. Kalau suatu saat nanti aku membaca ulang catatan ini mungkin
aku akan tertawa.
Dalam
menulis ceritaku ternyata aku lebih mudah dan sering mendapatkan ide atau
inspirasi tulisan ketika aku membaca cerpen atau buku lainnya, ditengah-tengah
membaca narasi cerita aku kadang malah membayangkan gambaran cerita-ceritaku
dan kelanjutannya, sehingga aku juga menyiapkan buku untuk menuliskan ilham
yang aku dapatkan ketika mambaca buku bacaan, atau aku segera menuliskannya di
sini, seperti saat ini. Aku banyak mendapat ide tentang kelanjutan cerita
pendekku, tentang pemikiran maupun narasi dan dialog antar tokoh.
Lik
Joko dan Wo Imbuh bertamu ke rumah, Lik Joko adalah cucu dari Mbah Subeni dan
merupakan keponakan dari Wo Mah, sedangkan Wo Imbuh adalah kakak dari Wo Sul
yang memang mohon maaf seikit terganggu mentalnya atau keterlaluan bodohnya,
secara fisik ia tidak kurang apapun sama seperti yang lain, tetapi secara
mental ia memang jauh tertinggal dari oranglain, entah ini sudah terjadi sejak
masih kecil atau saat dia dewasa –karena ditolak gadis pujaannya misalkan atau
apa.
Lik
Joko ngobrol tentang beras dan lainnya bersama ibu dan bapak, sedangkan wo
imbuh bersamaku menonton televisi dan ngelinthing bersama. Wo Imbuh membawa
speaker music box yang ia beli beberapa bulan yang lalu sebagai barang paling
berharga yang ia miliki kini, kemana-mana ia selalu membawanya, juga membawa
chargerannya, kemana-mana pula ia menyetel menghidupkan musiknya itu yang hanya
berisi lagu-lagu dangdut dan koplo, itulah satu-satunya alat penghibur yang
mudah membuat ia amerasa bahagia dan beruntung.
Tulisan cerita pendekku
sudah mencapai 70% dan 30% lagi bisa finish mencapai batas maksimal cerita, dan
ini berkembang bagus, aku mulai bisa merangkai cerita dengan metode spontanitas
dan hanya menggunakan outline yang berupa puisi naratif saja, semuanya spontan
mengikuti alur pikiranku, kadang mendadak berubah menuju arah lain kadang juga
menuju yang sudah seharusnya, namun aku menikmatinya sebagai penuli, karena
dengan hal seperti ini lebih mudah bagiku untuk mengembangkan cerita yang tidak
mudah diprediksi oleh oranglain. Semoga saja tim kurator bisa memahami makna
dan alur cerita yang aku buatkan ini. Semoga tulisanku ini bisa membawaku
bertemu dengan penulis-penulis idolaku, seperti om Seno Gumira Ajidarma, om
Agus Noor, om Triyanto Triwikromo, Bang Faisal Oddang, dan tim kurator lainnya.
Bismillah, yakin bisa masuk nominasi ya Allah. Aamiin ya robbal’alamin.
Komentar
Posting Komentar