Rabu, 19 Juli 2017
Rabu, 19 Juli 2017 Aku bangun tepat pukul sembilan pagi dan langsung disuruh sarapan kolak pisang oleh ibu. Aku juga membuat kopi sebagai salah satu pemacu daya gebrak tulisanku, tentu saja dengan rokok juga. Rokok kemarin masih sisa sembilan batang, cukuplah untuk menemaniku menulis hari ini. Kalau pun habis, masih ada tembakau yang disiapkan bapak untuk aku linthing beserta bala paketannya seperti paper sigaret, kemenyan dan cengkih. Bapak sudah berangkat kerja sebagai buruh macul di sawah milik para tetangga, aku tak bisa melihatnya pagi ini karena bapak berangkat sudah dari tadi pagi sekitar jam tujuh. Sedangkan ibu, tentu saja ia di rumah bersamaku. Tadi pagi ia sedang nonton televisi tetapi saat aku mau ikut menemaninya menonton, listrik tiba-tiba mati. Iya, beginilah nasib masyarakat yang hidup di pedesaan, listrik hampir dimatikan oleh pemerintah setiap harinya, kadang bahkan sampai larut malam belum juga dihidupkan. Ini jika pematian listrik memang disengaja oleh peme...