Rabu, 19 Juli 2017
Rabu,
19 Juli 2017
Aku
bangun tepat pukul sembilan pagi dan langsung disuruh sarapan kolak pisang oleh
ibu. Aku juga membuat kopi sebagai salah satu pemacu daya gebrak tulisanku,
tentu saja dengan rokok juga. Rokok kemarin masih sisa sembilan batang,
cukuplah untuk menemaniku menulis hari ini. Kalau pun habis, masih ada tembakau
yang disiapkan bapak untuk aku linthing beserta bala paketannya seperti paper
sigaret, kemenyan dan cengkih. Bapak sudah berangkat kerja sebagai buruh macul
di sawah milik para tetangga, aku tak bisa melihatnya pagi ini karena bapak
berangkat sudah dari tadi pagi sekitar jam tujuh. Sedangkan ibu, tentu saja ia
di rumah bersamaku. Tadi pagi ia sedang nonton televisi tetapi saat aku mau
ikut menemaninya menonton, listrik tiba-tiba mati. Iya, beginilah nasib
masyarakat yang hidup di pedesaan, listrik hampir dimatikan oleh pemerintah
setiap harinya, kadang bahkan sampai larut malam belum juga dihidupkan. Ini
jika pematian listrik memang disengaja oleh pemerintah, kalaupun tidak,
penyebab mati lampu di desa kami adalah karena pohon-pohon di sekitar jalan
mungkin ada yang rubuh dikoyak angin dan menimpa kabel listrik sehingga
mengakibatkan putus alirannya. Maklum lah, ini jalan desa yang si kanan kiri
sepanjang jalannya banyak pohon albasia atau pohon bambu atau bahkan pohon
kelapa yang setiap saat bisa memutus aliran listrik yang menghubungkan ke desa
kami. Pun jika sudah mati begini, untuk menghubungi pihak PLN agar segera
memperbaikinya juga masih perlu waktu yang lama, entah karena PLN yang terlalu
sibuk atau medan jalan yang ditempuh untuk sampai ke sini begitu sulit, banyak
jalan yang sudah rusak sehingga mengakibatkan rasa malas dari para petugas
untuk menyambangi desa kami dan memperbaiki listrik dengan segera.
Daripada aku sepi dan tidak melakukan apapun –juga karena malas baca buku. Aku kini mengetik dan menuliskan perbaikan dari beberapa puisi-puisiku yang sudah siap untuk di kirim ke media. Namun aku juga bingung untuk menyiapkan nama pena dari diriku. Aku sebenarnya sudah menyiapkan beberapa nama besar untuk dijadikan sebagai nama penaku, yakni: Samantha Tirta Anantareja; ini akan aku gunakan untuk tulisan bergenre sastra berat seperti puisi ataupun cerpen. Sahkli An-Nifla; digunakan untuk genre novel yang berbau islami. Soe Har Jie; akan aku gunakan untuk parodi ataupun catatan harian bernuansa pergerakan. I.S. Chaspra; ini untuk tulisan-tulisanku yang bermuatan romantis dan sasaran dari pembacanya adalah remaja. Serta Ilkhas Suharji; ini adalah nama pena yang melingkupi semuanya, mungkin buku-buku motivasi atau sejenisnya bisa aku pakai dengan menggunakan nama ini.
Aku belum membuatkan jadwal menulis harianku, karena aku masih mempelajari pola hidup dan pada waktu kapan biasanya aku bisa lancar dalam menulis. Jika aku perhatikan, kemarin aku bisa lancar menulis saat mulai pukul sepuluh malam hingga tengah malam. Dan di waktu pagi aku bisa lancar menulis –mengingat kelancaran yang telah lalu, aku lancar menulis dimulai dari jam sepuluh pagi sampai jam dua siang. Tetapi itu berdasarkan pola menulisku di waktu yang telah lama berlalu saat aku masih tinggal di asrama. Dan saat aku masih di kampus tetapi sudah tidak kuliah, aku bisa lancar mengetik di kantor bem kampus mulai pukul sepuluh malam sampai tengah malam. Ya mungkin dua waktu besar itu yang menjadi kebiasaanku menulis dengan lancar. Aku akan mempelajarinya hingga akhir minggu ini dan kemudian aku akan segera membuatkan jadwal nulisnya.
Sudah waktu dzuhur, ibu mengajakku untuk shalat namun aku masih saja menulis. Ibu shalat dengan menggelar sajadah di sela pintu kamarnya yang terbuka. Doa ibu kini sedang aku dengarkan dan dalam hatiku aku mengamininya dengan sangat. Ibu mendoakan agar aku bisa menjadi orang yang sukses, orang yang bisa memuliakan orangtuanya, bisa berguna bagi lingkungannya dan menjadi anak yang soleh tentunya. Ibu juga mendoakan adikku yang sedang merantau di Jakarta, semoga dia bisa betah, disayangi oleh majikan dan teman-temannya dan diberi rizki yang banyak yang berkah. Tak lupa ibu juga mendoiakan bapak yang sedang mencaari nafkah untuk keluarganya. Dan aku selalu mendoakan ibu supaya bisa aku bangakan dan aku muliakan serta mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ibu memang sangat menyayangi anak-anaknya terutama adikku yang perempuan. Setiap malam ibu selalu minta aku menghubungi adikku dengan video call atau dengan voice call biasa. Setiap pagi beliau juga menanyakan apakah adikku sudah menghubungiku kalau tidak beliau juga pasti akan meminta aku menunjukkan poto adikku yang ada pada pesan di handphone.
Aku ketiduran saat sore hari sekitar pukul tiga sampai maghrib ini, entah mengapa aku merasa kantuk sekali setelah membaca beberapa riwayat dan profil dari tim kurator lomba menulis cerpen eksperimental basabasi.co, ada beberapa penulis-penulis hebat yang menjadi kuratornya yaitu Seno Gumira Ajidharma, Triyanto Triwikromo, Agus Noor, Faisal Oddang, dan Gunawan Triadmodjo serta beberpa penulis lainnya. Oh ya, aku sepertinya akan mengikuti lomba ini, dengan ketentuan panjang cerpen sampai 20-40 halaman. Aku ingin berpartisipasi saja, tak mengharapkan menjadi juara, tapi syukur-syukur kalau bisa ikut dibukukan.
Ada satu hal yang mungkin perlu dicatat sebagai penyemangat ketika menulis, yaitu milikilah seorang pesaing yang mana jika ia sudah mempunyai karya maka kita akan merasa seperti dicambuk dan dipecut semangatnya untuk segera menjadikan tulisan itu nyata adanya. Aku sendiri mempunyai seorang sahabat yang juga merupakan saingan ataupun penyemangatku dalam menulis, dia bernama Efranji Agratama. Memang, tulisannya belumlah atau bukan bergenre sastra sepertiku, akan tetapi ia sekarang sudah mempunyai tiga karya buku yang sudah diterbitkan, aku sendiri belum satu pun bisa terbit –hanya dua judul saja yang sudah pernah cetak tetapi itu belum mendapat ISBN (Antologi Cerpen) dan satunya lagi Basagita Cerita Kita yang merupakan catatan dokumenter satu tahun aku dengan kekasihku. Dan aku masih merasa jauh tertinggal maka darinya aku harus terus dan terus menerus menulis sampai aku bisa menyamai jumlah buku yang dicipta oleh Anjy.
Bapak sedang ada tamu yaitu Pak Sabar yang merupakan pemilik sawah di daerah Mangunsari –tetangga desa, beliau bertamu untuk mengundang bapak beserta Wo Kayat dan tim buruh macul untuk menggarap sawah miliknya. Beliau merupakan teman sepermainan bapak saat masih bujangan, kemana-mana selalu bersama, padahal jarak desa bapak dengan desanya lumayan jauh. Tetapi demi menonton kesenian lenggeran yang sedang berlangsung dimanapun di sekitar kecamatan atau di kecamatan sebelah mereka tetap menonton bersama, bahkan sampai rela berjalan kaki beberapa puluh kilometer jauhnya. Sungguh menggelikan ketika aku diceritakan oleh Pak Sabar tentang kedekatan beliau dengan bapak saat muda. Pak Sabar pulang ketika ibu sudah mempersiapkan makan malam untuknya, begitu juga Wo Kyat juga ikut pulang ketika makanan sudah dihidangkan di meja makan. Ibu mungkin sedikit kecewa dan menyuruhku menghabiskan masakannya bersama bapak. Ibu juga sampai menyuruhku membeli kerupuk padahal.
Ternyata memang tidak mudah untuk menulis pun begitu juga tidaklah sulit, hanya saja memang konsistensi dari si penulis dalam setiap waktunya untuk menyempatkan menuliskan kata meski hanya beberapa halaman tulisan tidak apa-apa asalkan terjadi terus menerus dan tak pernah berhenti. Saat ini aku memakai metode brainstorming yaitu apa saja yang ada dalam pikiranku akan aku wujudkan dalam tulisan yang diketik pada keyboard laptopku. Apa saja, dan ini aku sediakan satu wadah khusus dalam catatan harianku saat menulis, hal ini sengaja aku lakukan untuk memancing imajinasiku agar terbiasa berkembang saat mengetik serta memperlancar kecepatan tulisanku. Dengan metode brainstorming ini aku yakin otakku akan terpacu untuk mengembangkan pemikirannya hingga sampai saatnya nanti ketika aku sudah menuliskan untuk narasi cerita ataupun dialog cerita sudah bisa fasih atau istilah jawanya ‘lanyah’. Dan ini akan sangat membantu percepatan karyaku untuk menjadi buku.
Aku juga akan berlatih dengan menggunakan pengembangan deskripsi suatu benda di sekitarku. Baiklah, saat ini aku ambil suatu benda dan aku akan mengeksplorasikannya sejauh dan sebanyak-banyaknya sampai aku tidak bisa mendeskripsikannya lagi. Ok, aku ambil contoh bantal guling di kamar ini.
Ada dua sebenarnya, dua bantal guling kembar berwarna merah muda dan bergambar seekor kodok hijau dengan tulisan kero-keroppi. Aku tak tahu mengapa dua guling ini dipisahkan, yaitu satu sudah digunakan dan sudah lusuh hingga warnanya semakin pudar, bercampur dengan tumpukan bantal-bantal dan selimut di kamar. Sementara yang satu masih menggantung di canthelan kamar diantara aksesoris milik adikku, seperti topi, jepitan rambut, tasbih, masker dan lainnya. Karena tidak digunakan –bahkan maasih terbungkus plastik, maka warnanya masih seperti baru masih utuh dan menyala, namun aku merasa kasihan padanya betapa sakitnya hidup digantungkan dan hanya menjadi hiasan belaka, seolah ia tak berguna, tak pernah disayang-sayang oleh yang membelinya –yang membeli adalah adikku dan aku tak tahu mengapa ia seperti inikan gulingnya. Namun ia guling yang digantung ini juga mempunyai keuntungan dengan tidak pernah dipakai oleh adikku, yaitu ia masih terlihat lebih bagus, lebih cantik dan masih kenyal empuk tidak seperti guling yang satunya. Seangkan guling yang sudah pudar itu, aku sendiri tak tahu apakah ia merasa bahagia dengan digunakan sebagai barang yang sering dipeluk-peluk oleh adikku atau ia malah begitu sengsara dengan perannya, ia telah lusuh, bau iler, dan tidak empuk seperti saudaranya yang digantung. Tetapi, apa jangan-jangan ia malah sangat bahagia karena dengan itu ia merasa bermanfaat bagi mahluk lain dan memang begitulah maksud penciptaannya sebagai guling ya digunakan untuk menemani tidur dan harus rela jika diompoli atau ditetesi air liur, ia seperti sudah menemukan tujuan hidupnya. Dan tentu saja ia merasa lebih beruntung dibandingkan dengan saudaranya yang hanya menjadi penghias ruangan kamar saja. Atau bisa jadi jangan-jangan mereka sudah mengetahui maksud adikku, mereka tetap sama-sama bahagia menjalankan perannya masing-masing, dan mereka bisa bekerja sama memperpanjang masa guna mereka untuk tuannya. Ketika guling yang lusuh ini sampai tidak bisa digunakan lagi maka masih ada saudaranya yang siap menggantikan perannya, dan itu jauh lebih memperpanjang masa adanya mereka menyertai tidur tuannya daripada ketika mereka langsung digunakan secara bebarengan dimana yang satu lusuh pasti yang lainnya juga, diman ayang satu dibuang begitu juga pasti untuk lainnya. Mereka pasti bersyukur menghidupi perannya maasing-masing dengan sesungging senyuman.
Yah, ternyata yang aku dapatkan malah diskripsi makna dari bantal guling milik adikku di kamar ini, aku kesulitan untuk mengeksplorasi deskripsi yang menyatakan kebendaan tentang dirinya. Mungkin aku juga bisa membuatkan dialog untuk mereka, akan tetapi belum saat ini aku gunakan karena saat ini aku disuruh membantu ibu untuk membuat nasi goreng. Maaf ya.
ini foto di instagramku @ilkhassuharji dengan caption: "Sepiring nasi goreng putih Bunda bersama Ayah dan Aku malam ini." Aku juga menandai foto itu bersama @andreahirata_ dan juga @djenarmaesaayu. bahkan foto ini juga mendapatkan like dan komentar berupa gambar bunga dari Djenar.
Nasi
goreng telah selesai dan dihidangkan kepadaku, aku menyiapkan dua piring untuk
aku dan untuk ibu, bapak sudah makan barusan. Aku makan di ruang depan bersama
ibu dan bapak yang sedang menonton televisi, saat mau makan datang Wo Muh dan
Wo Tar bertamu ke rumah, aku menawari mereka untuk mekan nasi goreng itu, dan
hanya Wo Muh yang mau, dan aku membagikan setengah dari sepiring besar nasiku
kepadanya. Selesai makan aku hanya menemani mereka menonton acara di televisi
yang menampilkan orang-orang yang sedang berjuang melunasihutang-hutangnya
dengan menggunakan microphone. Karena jengah, aku membuka laptopku lagi tetapi
bukan untuk mengetik, aku menonton kembali film karya Aamir Khan berjudul Three
Idiots.
Sahabatku –Yoga, kembali mengirimi sajak-sajaknya kepadaku dan aku diminta untuk memberikan penilaian atas karyanya tersebut. Memang lebih baik dari sebelumnya tetapi ternyata sajak itu adalah sajak lama yang ia ciptakan beberapa tahun yang lalu. Baiklah, mungkin akan aku tunjukkan sajak yang ia cipta berikut ini;
“Kembara”
Si
Kembara, kau harus pulang, serigala mencium jejakmu,
Burung
nazar mengintai derapmu, tapi kau kata; ‘TIDAK!!!’
‘Aku
harus kembali pada kehilangan rimba, kepada sungai yang dialiri kemarahan sangsi
atas jejakku, purnama dan biar hanya dia yang menemaniku, hanya daya raga rasa
secabik kain yang boleh menuntunku. Dan kau, DIAMLAH!!! Biar aku yang mendekap
sepi.’
Dan aku hanya mengatakan bahwa ia semakin berkembang lebih baik daripada sebelumnya. Dan aku tambahi suatu kutipan yang harus ia ingat; “Kadang tulisan kita pada waktu yang lampau malah terlihat lebih baik daripada yang kita cipta saat ini. Bukan karena dulu lebih baik daripada sekarang, tetapi karena pemahaman kita sekarang jauh lebih baik dalam memaknai suatu hal daripada yang terdahulu. Kita berkembang setiap waktunya dan setiap waktu memberi makna.”
“Semoga mas, sebenarnya saya lebih suka buat puisi daripada cerpen, tetapi saya kira proses membuat puisi itu susah sekali, mungkin butuh membaca dua sampai empat buku untuk membuat satu puisi, setuju?” balasnya menanggapi apa yang aku komentarkan kepadanya.
Tetapi sekali lagi, aku memaknai hal ini dengan tergantung bagaimana kita memandang. Memang untuk membuat satu puisi dengan telah terlebih dahulu membaca 2-4 buku bacaan tentu hasilnya akan lebih baik, akan tetapi semua tetap bergantung bagaimana kita memaknai suatu hal. Bahkan aku rasa satu buku yang kita baca bisa memberi inspirasi kita untuk menuliskan satu buku kumpulan puisi dengan tema yang sama. Bahkan satu kata yang kita baca juga bisa memberikan inspirasi untuk kita menuliskan satu kalimat, satu kalimat yang kita baca bisa menginspirasi kita untuk menuliskan satu paragraf, satu paragraf yang kita baca bisa menginspirasi kita untuk menuliskan satu halaman, satu halaman yang kita baca bisa menginspirasi kita untuk menuliskan satu bab, satu bab yang kita baca bisa menginspirasi kita untuk menuliskan satu judul buku. Sekali lagi, hanya tergantung bagaimana kita mengambil sudut pandang yang berbeda, dan memaknai setiap hal yang kita lakukan atau kita hidupi.
Naaah, tadi ketika aku menuliskan tentang puisinya Yoga, sekalian aku buat untuk latihan mengembangkan dialog, dalam menulis cerpen atau terlebih lagi novel, dialog merupakan hal yang sangat penting dan utama. Aku sedikit kesulitan dalam mengolah dialog dalam cerita-ceritaku akhir-akhir ini padahal dahulu ceritaku lebih dominan pada dialog untuk menyampaikan pesan moralnya. Sekarang aku terlalu berlebihan dalam mendiskripsikan narasinya sampai kehilangan cara dalam mengolah dialog. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu saat aku masih lay dan banyak bicara, dialog selalu menjadi cara utama dalam mengolah cerita sampai kehilangan cara bagaimana mengolah deskripsi narasinya. Aku belum bisa menyimpulkan apakah ini terpengaruh dari keseharianku yang beberapa tahun lalu banyak bicara sehingga aku menguasai pendialogan dalam cerita, sedangkan sekarang aku yang lebih banyak diamnya menjadikan tulisanku lebih menonjol dalam pendiskripsian narasi dan kesulitan membuat dialog. Ah, tak tahu juga, mungkin da pengaruhnya mungkin juga tidak. Yang pasti aku akan tetap menulis bagaimanapun jadinya, aku akan terus belajar memperbaiki kualitas tulisanku dari waktu ke waktu dan takkan pernah ada kata berakhi atau selesai.
Hari ini aku tidak membuat tulisan tambahan yang baru untuk proyek naskahku, hanya saja aku kembali membaca beberapa cerpen-cerpen lama serta mencoba merangkai alur/plot cerita dalam catatan seorang alayers. Puisi juga tidak atau tepatnya belum aku buatkan -mungkin sebentar lagi. Yang aku perbanyak justru tulisan dalam catatan harianku ini, aku merasa nyaman untuk membuat tulisan semauku seperti ini, karena aku kira kebabasanku menulis tanpa membatasi atau mengekang apa yang ada pada pikiranku seperti ini akan membuatku menulis dengan baik, dibandingkan dengan ketika aku menulis puisi atau cerpen atau novel yang tentu saja harus memperhatikan selain kaidah-kaidahnya juga memperhatikan apakah tulisanku ini akan layak dan disukai banyak orang atau tidak. Dan aku berharap dengan aku menulis lancar seperti di sini bisa membuat tulisanku di bidang yang lain juga menjadi lancar.

Komentar
Posting Komentar