Minggu, 23 Juli 2017
Minggu,
23 Juli 2017
Menulis
dalam keadaan yang kurang fit ternyata tidaklah mudah, jadi wajar saja jika
para penulis-penulis hebat dunia pasti menyempatkan waktunya di pagi hari untuk
berolahraga. Dengan masih menggigil karena masuk angin ditambah flu dan batuk
aku masih menyempatkan diri untuk menuliskan ini. Tadi pagi aku sudah minum
pereda batuk sachet, tetapi itu membuatku merasa kantuk yang sangat sehingga
aku baru saja bangun ketika sudah pukul sebelas siang, langsung sarapan dengan
tempe bacem dan segelas teh telah disediakan oleh malaikat kesayanganku –tentu saja
Ibu. Setelahnya aku tidak mandi, tetapi langsung menghadap layar laptop untuk
melihat-lihat tulisan yang telah aku ketik. Aku mencoba untuk meneruskan naskah
cerpen eksperimental kemarin, tetapi aku mandeg –berhenti, tidak ada kata yang
bisa aku tuliskan, aku masih mengantuk dan sembari mencari inspirasi, sembari
kupejamkan mata agar mataku tidak terlalu kecapaian.
Hasan
membeli buku karanganku berupa kumpulan cerpen, aku hanya memberi harga dua
puluh ribu saja untuk mengganti ongkos cetak. Buku itu akan ia gunakan sebagai
pemenuhan tugas dari guru untuknya agar menyumbangkan sebuah buku untuk
sekolahnya. Dengan demikian saja aku sudah senang, aku merasa dihargai dan
tentu juga menambah motivasiku untuk berkarya.
Paketanku
habis, dan aku tidak bisa melihat instagram, whatsap, bbm, atau fb dan media
sosialku yang lain. Membosankan memang, tetapi itu juga agar diriku bisa lebih
irit dalam pengeluaran sehari-hari yang mana aku sekarang tidak atau belum ada
pemasukan, ya, dan aku akan membeli paketan lagi apabila cerpen ini sudah
selesai untuk mengirimkannya melalui email.
Ibu besok
mulai lagi bekerja di pabrik kecamatan, tetapi ibu sudah mengeluhkan bahwa
dirinya sudah capai bekerja dikejar-kejar target dan akan mengundurkan diri
secepatnya. Aku hanya diam tak menanggapi keluhannya sama-sekali, mungkin aku
besok pagi mengantarkan ibu sampai di tempat kerja atau paling tidak sampai sapuran
agar ibu tak kebingungan dan tak terlalu kecapaian. Aku meneruskan tulisanku
ini setelah barusan ibu memintaku untuk memetik buah sirsak di depan rumah,
katanya sudah matang dan ternyata memang benar sudah sangat matang, aku malas
untuk memakannya, kubiarkan saja ia tergeletak di meja, biar nanti dijual ibu
juga tak apa.
Kutambah
syarat merokokku, dari yang tadinya hanya satu halaman menulis baru boleh
merokok satu batang, kini aku tambah menjadi satu lembar atau dua halaman
menulis baru boleh merokok sebatang. Dan karena kini sudah lebih hampir dua
halaman aku menulis maka sudah kusiapkan rokokku. Bagaimana dengan kondisiku
yang masih batuk ini? Tak mengapa, aku juga takkan membiarkan diriku tubuhku
ini terlalu manja dengan keadaan, aku akan melatih ia terbiasa dengan
kebiasaanku. Dan aku sebenarnya tidak sedang sakit, aku hanya sedikit lelah
mungkin, karena tidurnya selalu sampai larut malam, dan aku harus mengubah pola
itu.
Kunyalakan
sebatang rokok dan aku hisap dengan seksama, prediksiku pasti ibu akan
memarahiku jika melihat aku yang sedang batuk ini merokok, tapi ah sudahlah,
aku juga sudah kebal dengan omelan ibu semenjak kecil. Ibu tidak pernah
benar-benar marah, ibu hanya mengingatkan betapa pentingnya aku sebagai anaknya
untuk hidupnya dan ia tak ingin aku sampai kenapa-kenapa. Ya memang begitulah
sikap semua ibu kepada anak tercintanya. Oh, ternyata Hasan tidak hanya
memberiku duapuluh ribu tetapi malah memberiku duapuluh enam ribu sebagai
tambahan, ahai lumayan rejeki hehe. Keluarga bibi Yah memang sangat baik
kepadaku dan keluargaku.
Ibu sampai
kesal karena melihat buku ku tergeletak dimana-mana, di kamar ada buku, di
ruang depan ada buku, di meja tengah ada buku, di rak apalagi, semuanya memang
belum aku bereskan, aku tinggalkan begitu saja, semuanya tidak selesai aku
baca. Terlebih kamar yang biasanya ditempati oleh adikku yang tadinya tersusun
rapi kini berantakan tidak karuan, semuanya berantakan terutama buku-buku yang
berserakan dan selimut serta bantal yang belum aku bersihkan. Ibu memarahiku
dan aku hanya diam segera aku bereskan semuanya. Selesainya aku menonton film
AADC 2 untuk mencari inspirasi melanjtkan ceritaku.
Teh yang
dari tadi pagi sudah dibuatkan ibu telah mendingin, hawa hari ini memang begitu
dingin, menggigil aku rasanya, aku belum berani mandi, aku hanya melihat film
yang ada di laptop sembari merokok dan menghabiskan teh sampai tetes terakhir. Tak
lupa aku juga menulis ketika menangkap inspirasi, setitik apapun inspirasi itu
di kepalaku. Aku segera menuliskan hal apa-apa saja yang terlintas kepadaku. Tetapi
untuk cerpennya belum aku lanjutkan masih seperti yang kemarin saja, enam
halaman, entah nanti entah apakah akan bertambah lebih banyak satu dua halaman
pun tidak mengapa atau masih tetap sama, tetapi aku akan terus berusaha terus
menerus untuk melanjutkannya, ini untuk kebaikanku, agar aku bisa mengikuti
loba cerpen eksperimental dari basabasi.co demi masa depan kepenulisanku
selanjutnya juga. Jika aku bisa sampai menang maka aku akan melunasi hutang
yang ibu miliki dan selanjutnya hadiah itu akan aku gunakan untuk membiayai
kuliah baruku, aku mau melanjutkan kuliah lagi dan sembari melanjutkan
pembelajaranku sebagai penulis, lagi dan lagi, terus menerus.
“Naaak,
ini mau dipedesin atau cuman digoreng aja?” tanya ibu yang sedang memasak tempe
bacem. Aku maasih menonton AADC2 sampai batrei laptop hampir habis.
“Terserah
ibu saja.” Jawabku yang masih asyik menatap layar.
“Ibu
goreng saja ya, nggak usah dipedesin, nanti kalau mau pedes ibu buatin sambal
saja ya!”
“Iya
bu.”
Aku ke
dapur untuk melihat ibu yang sedang memasak menggunakan tungku, memang ada
kompor tetapi ibu lebih suka menggunakan tungku katanya masakannya akan lebih
enak jika memakai pengapian tungku. Percaya tidak percaya si, tetapi apapun itu
masakan ibu tetap paling enak bagiku.
Aku menuliskan
catatan ini di meja tengah degan mamakai kacamata, aku tidak terlalu suka
memakai kacamata sebenarnya, tetapi demi melindungi mataku dari radiasi layar
laptop aku memakainya, aku sering melihat diriku sendiri di cermin dan
memandang wajahku memakai kacamata, agak wagu si memang tetapi tetap saja cowok
secakep aku akan tetap cakep memakai apapun. Kata ibu, aku memang orangnya
pantesan –memakai apa saja tetap pantas dan terlihat bagus. Entah benar atau
hanya doa ibu saja demikian ibu selalu katakan padaku, tetapi aku tentu saja
percaya dan yakin dengan semua yang dikatakan ibu. Toh ibu adalah representasi
Tuhan untukku. Asalkan membuat ibu bangga dan bahagia aku percaya saja. Dan memang,
dekat dengan ibu membuatku semakin termotivasi untuk segera menjadi penulis
yang hebat, ibu mendukung apa yang aku upayakan bahkan disetiap doanya setelah
shalat aku selalu mendengar namaku dan nama adikku selalu ia sebutkan.
Jika
suatu saat nanti aku sukses dan berhasil menjadi salah seorang penulis yang
hebat, maka tidak lain dan tidak bukan itu semua karena ibuku. Ibu selalu mendo’akan
setiap saatnya untukku, untuk adikku, dan aku juga takkan menyia-nyiakan
kepercayaan yang ibu berikan kepadaku ini, beliau yakin aku akan menjadi orang
yang hebat yang bermanfaat dan dikenal oleh dunia. Tidak lupa bapak, sosok
paling tangguh yang pernah ada dimuka bumi ini, menjadi penyangga keluarga dan
merelakan semuanya apapun itu kepada keluarga. Ibu yang pernah sakit kakinya
karena jatuh saat mencari kayu bakar, kadang mengeluhkan jika kakiknya kumat,
pegal-pegal atau sakit linu. Sakitnya tepat di dengkul sebelah kirinya. Dan jika
besok ibu berangkat kerja maka ia akan kecapaian, oh aku harus segera
mensukseskan diriku, menjadi seorang anak yang mempunyai masa depan yang cerah,
aku harus segera sukses, harus! HARUS!!!
“Kalau
Harji lebih suka makan tempe daripada tahu, sedangkan Tia malah lebih suka
makan tahu daripada tempe. Kalau keduanya ada di rumah, Ibu harus memasak keduanya
biar adil.” Kata Ibu kepada Mbakyu Boyami –tetangga rumah yang memangmasih
saudara denganku, ia merupakan teman masa kecil ibu, dan kini ia menjadi istri
dari kakaknya suami bibi Yah.
Ya,
aku memang lebih suka makan tempe daripada tahu, aku tidak mengerti alasannya,
tetapi aku masih mau dan doyan juga jika memang hanya ada tahu. Seperti aku
juga lebih suka makan ketan daripada wajik. Haha, apa-apaan ini ya? Kok malah
membahas makanan, ya mungkn itu informasi saja buat nanti calon istri aku biar
tahu bahwa aku tidak begitu menyukai tahu. Haha.
“Ji, katanya, Danang saudaranya Heri itu sama
juga kayak kamu ini, mainan laptop di rumah saja, terus membuat buku dikirimkan
terus dapat hadiah uang duapuluh juta, kamu mudah-mudahan juga bisa kayak dia
ya.” Kata ibu saat menjelang maghrib.
“Oh,
Danang siapa bu?”
“Danang
saudaranya Heri itu, ya kayak kamu ini, cuman ngetik-ngetik dan nulis di rumah
tapi dapat hadiah duapuluh juta. Ya kamu juga bisa kayak gitu, kalau dapat
hadiah seperti itu jangan lupa sebagian disadaqahkan ya.” Kata ibu sekalian
mendoakan aku.
“Aamiin,
iya bu. Insyaallah kalau tulisanku ini sudah selesai ya bu. Ibu doakan saja
hehe.”
Ya,
ibu yang belum tahu apa itu menulis buku dan menerbitkannya mengira bahwa
royalti dari menulis itu seperti hadiah. Semoga saja dengan restu ibu aku bisa
segera mewujudkan apa yang selalu ibu doakan itu atas karunia Allah.Kami –aku ibu dan bapak
shalat jamaah di rumah, bapak menjadi imam aku dan ibu makmumnya. Selesai salam,
aku tak bisa tidak meneteskan airmata ketika mendengar doa yang ibu panjatkan. Ibu
berdoa untuk kesuksesan aku dan adikku. Ya ibu juga mengirimkan doa fatikhah
dan al-ikhlas untuk keluarga terkhusus aku dan Tia. Aku hanya berdoa kepada
Allah agar apa yang ibu do’akan bisa segera terkabul. Semoga Allah bisa
memberiku kekuatan yang lebih untuk bisa membuat buku dan mensukseskan diri
demi membanggakan Ibu dan Bapak. Hari ini memang aku lebih banyak menuliskan
apa yang berhubungan dengan kesuksesan juga do’a dari ibu untukku.
Komentar
Posting Komentar