Kamis, 20 Juli 2017



Kamis, 20 Juli 2017

     Maafkanlah aku yang mulai menulis hari ini ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Tadi pagi aku dibangunkan oleh ibu pada pukul sepuluh pagi, tidak, sebenarnya ibu sudah membangunkanku pagi sekali sekitar pukul lima untuk shalat subuh dan aku malah tidur kembali sampai jam sembilanan ibu sudah menyiapkan nasi goreng untuk sarapanku, tetapi mataku masih berat sekali untuk kubuka. Setiap hampir sepuluh menit sekali ibu mencoba untuk membangunkanku, bahkan mungkin sampai sedikit marah karena nasi goreng yang tadinya panas menjadi hangat dan sampai dingin kembali. Bangun tidur, cuci muka langsung memakan nasi yang sudah disiapkan, ditambah dengan tahu susur dan pisang goreng menjadi sarapanku di pagi menjelang siang tadi. Sembari makan aku sembari membaca buku yang berisi skenario film untuk puisi-puisi Chairil Anwar dengan judul ‘Aku’ yang dibuat oleh Sjuman Djaya.

     Menulis dengan mengurung diri di karmar dan hanya keluar untuk buang air menjadi pertanyaan untuk diriku sendiri, apakah dengan ini bisa menambah konsentrasiku dalam menulis atau membuatku kehilangan inspirasi tulisan. Ya, itu yang akan aku buktikan mengenai suatu kata dalam pemahamanku, bahwa seorang penulis akan mampu menulis meskipun ia dikurung, sebagaimana telah dicontohkan oleh penulis-penulis besar yang malah sangat produktif ketika mereka dikurung di dalam penjara. Ya, tentu saja dimana pun aku, baik mengurung diri di rumah atau sembari jalan-jalan ke suatu tempat yang entah kemana tetap saja aku akan tetap bisa menulis dan menulis. Menulis bagiku adalah suatu perilaku yang menembus batasan ruang dan waktu.

Lalu bagaimana dengan kewajibanku yang lain seperti bekerja, apakah aku akan membiarkan diriku hanya menulis dan menulis tanpa bekerja di suatu tempat dan di bidang apa, ataukah aku menganggap bahwa menulis ini adalah pekerjaanku sehari-hari, lalu bagaimana cara memahamkan kepada orangtua dan tetangga sekitar perihal diriku yang hanya terlihat di rumah saja tanpa bekerja. Terlebih lagi, bukankah tulisanku belum menghasilkan penghasilan sebagaimana mestinya. Dan pernah kau dengar salah seorang penulis juga mengatakan bahwa jangan pernah menjadikan menulis sebagai suatu pekerjaan utama yang menjadi sumber penghasilan untukmu, karena selain pasti mengurangi nilai tulisanmu, juga kau takkan pernah mendapatkan penghasilan yang besar dengan menjadikan tulisanmu sebagai pekerjaan. Jadikanlah menulismu itu sebagai hobi sampingan yang kau takkan berharap mendapatkan penghasilan darinya, karena dengan begitu maka kau akan mendapatkan karya yang jauh lebih brilian dan syukur jika mendapatkan penghasilan besar pula dari tulisanmu itu. Haha, dan aku bingung sementara menulis adalah bekerja untuk keabadian kata Pram.

“Naaak, ibu pinjam uangmu sepuluh ribu untuk takjizah ya.” Pinta ibu sesaat setelah mendengar kabar bahwa simbah dari saudaraku meninggal.

“Iya bu, itu di lemari buku, ambil saja.” Jawabku yang masih terus menulis.

“Kamu saja yang mengambilkan ya, ibu mau shalat dulu.”

Lalu aku ambilkan uang senilai yang ibu pinta dari sisa uangku yang tinggal 35.000 rupiah saja. Itu adalah uang sisa kembalian dari anggaran untuk membeli laptopku ini. Dan beberapa saat setelah shalat ibu menunggu para tetangga lain yang juga mau takjizah bersama. Aku masih di rumah, menulis dan menulis lagi. Oh ternyata sebelum ibu berangkat ke tempat orang yang meninggal pertama tadi malah simbah tetanggaku juga meninggal, ibu kembali pulang mengabarkan berita itu kepadaku.

“Naaak, Mbah Komedhi meninggal, ibu takjizah ke sana dulu lalu baru nanti berangkat takjizah di Mbahnya Lindhuk. Kamu di rumah saja ya! Jangan kemana-mana jaga rumah. Oh ya televisinya juga kalau tidak ditonton dimatikan saja.”

“Iya bu.” Jawabku yang masih dari dalam kamar dan masih mengetik.

Sesaat setelah mendengar pintu tertutup dan ibu telah berangkat, aku ke ruang tamu, kuambil remote televisi, aku matikan, dan kembali lagi ke kamar untuk menulis. Gema suara pengumuman kematian menggema di seluruh desa dari corong-corong pengeras suara masjid.

“Ngaturi pengumuman dumateng masyarakat Talunombo, bilih kalanembe simbah Komedhi Sirandu sampun kapundhut ing ngarsa dalem Allah subhanallahuwata’ala. Sepindah malih, ngaturi pengumuman dumateng masyarakat Talunombo, bilih kalanembe simbah Komedhi Sirandu sampun kapundhut ing ngarsa dalem Allah subhanallahuwata’ala. Monggo sareng-sareng maos kalimah tarjeh, innalillahi innailaihi roji’un, innailaihi wainnailaihi roji’un, innalillahi wainnailaihi roji’un.”

Beberapa saat kemudian berbondong-bondonglah masyarakat desa dari berbagai penjuru, baik dari arah selatan daerah Krajan dan Sabrang, dari arah timur daerah Larik Wetan dan Kebondalem, dari arah barat daerah Kauman dan Kalimbulu serta daerah utara daerah Si Manggis semua berdatangan untuk takjizah ke Si Randu yang berada tepat di atas sebelah utara rumahku. Betapa masih pedulinya mereka para penduduk desa dalam bersimpati dan berempati kepada sesama masyarakat desanya yang sangat jarang aku temui di perkotaan besar seperti di Jakarta kemarin-kemarin. Bahkan kalau di desa masyarakat akan malu jika sampai tidak ikut hadir dan melayat ketika ada tetangganya yang terkena musibah. Sungguh manusia desa merupakan perwujudan keelokan manusia yang sesungguhnya.

 Ini adalah foto instragram di akunku @ilkhassuharji dengan caption: "Aku tidak hanya membacanya, tetapi aku juga mendengarnya, merasakannya, serta menuliskannya. itulah mengapa aku tak pernah kehilangan arah." dan sukses mendapatkan like serta komentar dari @penerbitbukukompas : "Selamat Membaca."


Belum sampai dua halaman aku menulis dan aku mulai bosan ingin berhenti di tengah jalan sebelum target dua halaman selesai, aku tergoda untuk membaca buku atau menonton film atau merokok lagi. Akan tetapi pikiranku tiba-tiba malah menjadikan kebosananku ini menjadi tulisan sebagaimana sedang aku ketikkan ini. Jadi, rasa bosan aku pikiran mampet saat menulis ini aku jadikan sebagai bahan tulisanku. Ahaa, sepertinya aku kini mulai mengerti, mengapa penulis-penulis lain yang sudah profesional mudah sekali menulis dengan lancar dan terus menulis bahkan satu hari bisa menghasilkan satu bab atau satu judul buku. Kang Aguk misalkan, ia menyelesaikan novelnya yang tebalnya kira-kira tiga sampai empat ratus halaman hanya dalam waktu satu minggu saja. Ternyata benar, bisa itu karena terbiasa. Dan aku akan membiasakan diri untuk menuliskan tulisan-tulisanku sebanyak-banyaknya sebaik-baiknya.

“Lho, nak Harji masih di rumah? Belum berangkat lagi?” Tanya salah seorang tetangga yang melihatku ada di kamar sedang menulis –saat itu beliau numpang untuk buang air kecil di rumah semabari menunggu mobil takjizah datang.

“Iya bulik, belum.” Jawabku singkat karena masih konsen menuliskan apa yang sedang ada dalam otakku.

“Kapan mau berangkat lagi? Atau malah nggak mau berangkat lagi?” maksudnya adalah berangkat lagi ke Jakarta.

“Kayaknya enggak bulik, masih ingin di rumah dulu.” Jawabku yang kini mulai berhenti mengetik.

“Ooh masih kangen ya sama ibu bapak?”

“Hehe, iya bulik.”

“Lagi ngapain to? Dari tadi sibuk ngetik, lagi buat apa?” Beliau penasaran dan mendekat melihatku.

“Enggak kok bulik, ini cuman lagi sinau buat nulis buat cerita saja.”

“Oalah, jadi lagi buat kayak buku-buku novel gitu ya?”

“Hehe, iya bulik.”

“Ooh.” Tanggapnya mencoba memahami apa yang sedang aku lakukan.

Aku kembali meneruskan tulisanku yang sempat terhenti barusan. Tak berselang lama mobil carteran untuk takjizah sudah datang, ibu dan para tetangga yang lain berangkat ke Sukasrena. Aku di rumah kembali sendirian.

Aku kembali menulis dan terus menulis sampai ibu pulang. Sampai bapak pulang dari kerja.

“Ji, pisangnya itu lho, mbok dimakan!” perintah ibu agar aku memakan pisang yang tadi pagi diberi oleh Mbah Tamim.

“Iya bu.”

“Jiii! Makan kok, dari tadi kamu ini sibuk aja dengan laptop.”

“Iya bu, nanti aku makan.” Aku masih mengetik.

“Sekarang, kamu ini dari tadi bangun tidur sampai sekarang mainan laptop saja, apa nggak capek? Kamu itu kalau udah mainan laptop pasti lupa makan. Ini dimakan!” Ibu menghampiriku ke kamar dengan membawa pisang yang tadi hanya tergeletak di meja.

“Iya bu, makasih.” Jawabku menerima pisang yang ibu berikan. Langsung saja mengupas kulitnya siap untuk kumakan.

“Eeee, kalau makan jangan di kamar! Ora ilok! Sini keluar kamar, sekalian makan ya, ibu ambilkan piring.” Kata ibu mengingatkan dan ia lalu beranjak ke dapur mangambil piring. Aku hanya menurut saja.

“Ini piringnya, lauknya ada di dapur, ambil sendiri ya!” ibu meletakkan piring yang ia ambil di meja tepat di depan aku duduk.

“Iya, Ibuuuu.” Jawabku sembari membuang kulit pisang ke dapur, lalu membawa piring yang ibu bawakan dan mengambil nasi serta lauk di dapur.

“Ibu nggak makan sekalian?” tawarku.

“Ibu nanti saja, kamu aja duluan.”

Selesai makan, aku kembali ke kamar untuk memulai kembali mengetik, tetapi belum sampai dapat satu paragraf, ada tamu dari saudara jauhku yang ada di Gentan Kepil. Mereka adalah paman dan anaknya pamanku, berempat datang ke Talunombo untuk takjizah juga di mbah Komedhi. Aku menemani mereka duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Tontonan wajib yang biasa ada di rumahku setelah maghrib adalah mikropon pelunas utang dan kemudian dunia terbalik. Sampai malam jam sembilan mereka pulang, aku juga ke kamar, namun bukan untuk mengetik, aku malah tertidur sampai pagi. Hari ini aku mengetik hanya mendapat lima halaman ini saja. Ya, tak mengapa itu masih diambang batas minimal harianku menulis yaitu lima halaman per hari. Tetapi tentu saja ini juga masih bentuk tulisan catatan harian yang begitu mudah dituliskan. Belum ke proses membuat buku yang bisa menjadi novel atau buku bacaan.

Entah mengapa malam ini aku merasakan kantuk yang luar biasa, biasanya aku akan menulis mulai pukul sepuluh malam sampai jam saatua atau dua dini hari. Akan tetapi hari ini mungkin berbeda dan aku semakin tidak kuasa untuk menulis lagi, mataku digelayuti orang-orang kecil di ujung bulu-bulu mataku, mereka mencoba untuk menutupkan mataku sekuat tenaga mereka. Dan aku menyerah, aku tertidur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rabu, 26 Juli 2017

Minggu, 10 September 2017