Minggu, 20 Agustus 2017



Minggu, 20 Agustus 2017

Nanti akan aku ceritakan bagaimana aku bisa mencuri ciuman pertama dari beberapa gadis yang menjadi kekasihku, oh tidak hanya kekasih aku bahkan mendapatkan ciuman pertama dari kekasih sahabatku sendiri, aku tidak pernah menyesalinya karena aku sadar apa yang telah aku lakukan, pun begitu aku mendapatkannya dengan sukarela tanpa hambatan dan tanpa halangan yang berarti, tetapi memang akibat setelahnya kadang menjengkelkan, aku menjadi terpisah dari mereka yang telah berciuman denganku, dimulai dari pacar pertamaku, hingga kekasihku kini, anehnya pada ciuman dari kekasihku yang saat ini aku tidak merasakan kenikmatan seperti yang dulu kurasakan saat ciuman sebelumnya, kali ini terasa biasa saja tetapi entah mengapa aku juga tidak berpisah darinya seperti yang sudah-sudah, padahal paling lama aku akan berpisah dari orang yang aku cium itu sekitar sebulan setelahnya, tetapi dengan kekasihku ini sudah hampir satu tahun lamanya, tetapi masih bersama tidak ada hambatan sama sekali. Apakah ini pertanda kalau aku dan kekasihku saat ini memang jodoh. Aku tidak bisa memastikannya, yang aku tahu aku rasa cinta yang aku rasakan kepadanya memang biasa saja, tidak terlalu menggebu-gebu tetapi hal yang tidak bisa aku lakukan pada gadis lain bisa aku lakukan dengannya. Pertama kali merasakan kedewasaan diriku bahkan aku bisa menangis jika ada di dekatnya, aku seperti tak ingin kehilangannya. Juga dia adalah satu-satunya gadis yang pertama kali menginap di rumahku dan diijinkan oleh bapak ibu ku. Aku tak paham arti ini namun banyak hal-hal yang pertamakali aku lakukan dengan ataupun bersamanya.

Oh ya, sepertinya aku sudah banyak ngelantur yang tidak berfokus pada hal yang pertama ingin aku ceritakan tadi, yaitu mengenai aku yang menjadi pencuri ciuman pertama dari beberapa gadis, dan nanti akan aku ceritakan satu demi satu cerita saat aku mendapatkannya. Bagaimana pula pada akhirnya aku harus berpisah dengannya, yang anehnya semua gadis yang aku cium bibirnya itu selalu mengatakan bahwa itu adalah ciuman pertama mereka, aku tidak takut terkena HIV atau AIDS toh penyakit itu takkan menular jika hanya melalui ludah saja, dan dengan itu pun aku akan merasa aman-aman saja, paling parah mungkin aku akan tertular sariawan jika terlalu bersemangat saat ciuman. Dan juga toh aku hanya kehilangan keperjakaan dari bibirku saja dan aku tak sekalipun pernah memerawani seorang gadis, atau lebih tepatnya belum pernah melakukan hal yang lebih jauh daripada ciuman bibir.

Ya, memang itulah yang nantinya akan aku buatkan cerita pendek tentangnya, aku akan membuatnya untuk mengenang sekaligus menjadi pekerjaanku hari ini, karena aku harus memenuhi targetan nominal yang telah aku sepakati dengan diriku sendiri, yah, aku harus membuat tulisan yang minimal bisa mencapai jumlah 35.000 nominal. Setelah shalat subuh ini aku akan istirahat terlebih dahulu, karena aku juga harus menjaga kondisi tubuhku, aku harus tetap lebih prima sehingga bisa menyalurkan ide menjadi tulisan yang lebih menarik. Dan aku akan melanjutkan tulisan ini nanti jika aku sudah bangun lagi, mungkin akan sedikit lebih siang sekitar jam satu atau yang asti ba’da dzuhur aku pasti dan harus sudah bangun. Pastinya nanti ibu akan terus mengganggu tidurku dengan terus membangunkanku, tidak apa-apa mungkin kali ini ibu akan lebih memahami apa yang aku lakukan malam ini hingga tidak tidur sampai pagi, tetapi jangan khawatir aku akan langsung menulis ketika aku sudah bangun lagi nanti, dengan menulis akan membuat diriku merasa lebih hidup.

Karena aku telah berjanji untuk menjadi lebih giat dan akan melakukan hal lebih daripada yang biasa dilakukan oleh orang lain maka sebisa mungkin aku akan menepati janjiku ini, karena aku tahu dan sadar betul bahwa nilai dari seorang lelaki adalah dari bagaimana ia memperlakukan janji yang telah dibuatnya, jika ia mengingkari janjinya sendiri maka ia adalah lelaki pengecut atau pecundang, namun apabila lelaki itu bisa menepati janjinya hingga akhir, maka ia lah lelaki sejati. Dan sengan hal itu maka untuk membedakan dengan mudah apakah lelaki itu termasuk lelaki sejati atau bukan kita bisa melihat dari seberapa sering ia mengucapkan janjinya, semakin sering ia berjanji maka semakin terlihat bahwa lelaki itu adalah lelaki pecundang, sebab seorang lelaki sejati akan sangat berhati-hati dalam mengucapkan janji, ia hanya akan berjanji apabila ia memang benar-benar yakin bahwa ia bisa menepati janjinya tersebut.

Aku sudah mengantuk tetapi aku masih ingin menulis, bagaimana ini apakah aku harus segera mengambil air wudhu terlebih dahulu lalu shalat dan melanjutkan menulis lagi, kalaupun nantinya aku tertidur aku sudah dalam keadaan telah melakukan shalat subuh, ataukah sebentar lagi saja menunggu sangat ngantuk sekali atau menunggu aku sudah ingin berhenti mengetik papan keyboardku ini, pikiranku berkata untuk segera melakukan shalat tetapi jemariku bersikap lain, ia menahanku dengan terus menerus mengetik tak henti-henti tanpa jeda. Tetapi sekali lagi aku minta maaf aku merasa harus segera melakukan shalat, baiklah jemariku sepertinya akan sadar dan mengalah, lalu membiarkan aku berhenti mengetikkan hal ini, oh, baiklah aku berhenti dulu hitung-hitung sebagai proses istirahat.

Aku tidak sedang mengejar target dengan menuliskan catatan harian ini sepanjang-panjangnya, toh aku hanya mendapatkan nominal seribu untuk tiap satu halaman pada catatan harianku ini, bukankah aku harus menulis sekitar 35 jalaman jika ingin terbebas dari status wajib nominal 35.000, tentu bukan lah hal yang mudah untuk melakukannya, namun andaikan aku bisa menulis secepat ini dalam menulis cerpen atau novel tentu akan lebih berarti lagi selain hanya sebagai catatan seperti yang aku tulis ini. Aku juga tidak begitu paham, mengapa sama-sama tulisan tetapi mendapatkan penghargaan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Tetapi kali ini memang aku sedang ingin banyak menuliskan tentang apapun. Aku akan menulis dalam bentuk cerpen maupun puisi ataupun novel. Yang novel ini terutamanya harus segera aku selesaikan karena aku sudah berjanji pada banyak orang bahwa maksimal akhir tahun ini novelku sudah harus jadi dan bisa diterbitkan. Ya, aku masih mengingatnya, lelaki sejati adalah ia yang bisa mewujudkan janjinya menjadi kenyataan.

Bagaimana jika aku juga menominalkan halaman buku yang aku baca, kira-kira berapa nominal yang pantas untuk satu halaman buku yang dibaca apakah satu halaman 100 nominal itu terlalu berlebihan? aku rasa tidak, untuk memenuhi satu target harian jika hanya dengan membaca berarti minimal harus membaca sebanyak 350 halaman buku, itu adalah angka yang pas menurutku, 350 halaman tentu saja setara dengan satu buku bacaan, entah itu novel atau apapun terserah yang penting harga yang akan dibayarkan bernominal sekian, yah, dan itu memang cukup adil dibandingkan dengan bagaimana rasanya ketika kesulitan menulis. Kau bisa melakukan membaca buku itu jika sedang kesulitan menulis, bukankah itu tetap menjadi alternatif pekerjaan yang mengasyikkan.

Anak-anak kecil telah berlarian di subuh ini, aku tak tahu apakah dahulu aku juga demikian halnya, mereka saling berteriak memanggil teman-temannya untuk bermain bersama. Apa yang akan dilakukan anak-anak di luar sana aku tidak tahu pastinya, namun aku bisa memastikan betapa mereka merasakan bahagia di hari libur sekolah ini pagi-pagi sekali mereka bangun untuk mendapatkan waktu bermain yang lebih banyak, berbanding terbalik dengan kemarin-kemarin atau besok saat mereka harus sekolah, sulitnya minta ampun ketika dibangunkan. Bisa jadi mereka akan melakukan lari pagi seperti aku dulu bersama teman-teman di waktu kecil, lari pagi seerti itu kami lakukan hanya karena melihat aktivitas pagi orang-orang kota di televisi atau di sinetron-sinetron yang kami tonton. Ada banyak cerita memang yang terjadi saat kami melakukan lari pagi itu, mulai dari sakitnya tertinggal teman-teman karena telat bangun sampai gempar melihat hantu karena melakukan lari pagi terlalu dini dan terlampau jauh hingga sampai ke hutan-hutan yang sepi, ah konyol sekali jika aku mengingat masa kecilku dulu, namun jujur saja aku lebih merasakan bahagia yang berarti ketika masih kecil dan masih merasakan waktu yang aku punyai sungguh berarti dan terasa lama daripada kini. Berbicara tentang masa kecil memang tidak ada habisnya, aku bisa menuliskan banyak halaman pada catatan ini jika semua pengalamanku di masa kecil aku tuliskan, namun aku tak akan melakukan itu untuk saat ini, entah nanti.

Apakah aku sudah harus tidur sementara aku belum merasakan kantuk yang sangat, hanya sedikit-sedikit memang terasa, namun aku masih bisa menahannya, ataukah harus aku cukupkan terlebih dahulu, sekaligus memberikan waktu bagi laptop ini istirahat sebentar, dan aku kan mulai membaca beberapa halaman buku, bukankah itu tetap berarti aku bekerja, tidak menganggur seperti kemarin-kemarin. Mungkin aku harus melakukan hal seperti ini jika aku mengiginkan bisa bertahan di rumah hingga januari tahun depan. Aku hanya butuh waktu sampai januari itu di rumah ini, setelahnya aku akan mulai berpetualang lagi untuk menambah pengalaman hidup yang indah dan penuh cerita hebat ini.

Buku yang akan aku baca adalah novel dari karya Arswendo Atmowiloto berjudul sudesi (sukses dengan satu istri), aku telah membaca dua bab awal novel ini menceritakan seorang lelaki hebat yang mempunyai usaha di bidang konsultan kreatif sukses, mempunyai calon istri yang merupakan sekretarisnya sendiri di kantor miliknya, ia sangat mencintai kekasihnya itu, namun ia seertinya mempunyai penyakit lemah syahwat sehingga ia jujur belum akan bisa memberikan nafkah batin apabila kekasihnya itu menikah dengannya. Baru sampai dua bab itu, aku akan melanjutkannya membaca hingga bab tiga itu selesai, lalu aku akan tidur untuk istirahat terlebih dahulu, sampai nanti siang untuk bertemu dengan jemari lentikku ini.

Pagi ini lamat-lamat aku dengar suara Bibi Yah mencari aku atau ibuku, aku masih tertidur, rupanya ia memberikan sarapan nasi goreng untukku, namun karena aku masih tidur akhirnya ibu yang memakannya. Aku disisakan tempe kemul untuk aku makan nanti sore. Aku bangun ketika dzuhur berkumandang, saat itu Wo Mah memberi kami onde-onde, aku langsung memakannya ketika aku bangun, ibu juga telah membuatkan kopi untukku, aku menikmatinya setelah cuci muka dan ibu membelikanku rokok, rokok yang aku beli lima hari kemarin habis tadi malam, oh ya tadi malam aku kelaparan dan nasi di rumah habis, aku membuat mi instan dengan telur dan aku makan tengah malam sekitar pukul tiga dini hari.

Sampai sore ini aku tidak bisa membuat cerpen yang berkualitas, menurutku sendiri, aku hanya membuat cerita yang penting terasa ditulis saja suatu saat nanti mungkin bisa dikoreksi kembali, bisa dilakukan perbaikan kembali. Aku membaca novel karya Arswendo Atmowiloto berjudul Sudesi (sukses dengan satu istri) lumayan bagus pembuatan alur ceritannya, santai namun tandas, penguraian atau pembagian dalam jumlah halaman dalam tiap babnya juga enak membuat nyaman pembaca. Aku bisa mencontoh bagaimana beliau memilah datu bab dengan bab lainnya secara santai dan tenang menyajikan konflik secara halus perlahan-lahan meski memang dari awal juga sudah menyajikan konflik batin pelaku yang merupakan konsultan poto dengan di datangi oleh seorang ibu setengah baya yang menginginkan ia memotret wanita tersebut secara telanjang. Dan pada akhirnya lama kelamaan muncullah gairah dari diri si tokoh utama kepada si wanita matang tadi. Padahal suami wanita itu adalah penggagas teori sukses dengan satu istri atau sudesi. Aku membacanya baru sampai konflik yang dialami oleh anak dari ibu yang ingin dipotret secara telanjang tersebut. Dan ternyata hari ini aku telah membaca hingga 50 halaman. Yang artinya aku mendapatkan nominal 5.000 dari hasil aku membaca, sementara menulis, karena lima halaman cerpen yang aku tulis itu msih jauh dari kata bagus menurut diriku sendiri, maka aku hargai perhalamannya sama dengan nominal halaman catatan harian ini. Yaitu 5.000 nominal. Sama persis dengan catatanku saat ini yaitu 5 halaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamis, 20 Juli 2017

Rabu, 26 Juli 2017

Minggu, 10 September 2017