Senin, 7 Agustus 2017



Senin, 7 Agustus 2017

Aku yang sudah terbiasa tidak tidur di waktu malam ternyata membuat aku kesusahan untuk memejamkan mata dan lelap, aku masih saja membaca buku yang baru aku beli itu hingga pukul 03.00 dini hari, lalu aku memainkan handphone untuk menonton film running man dan ternyata aku ketiduran hingga subuh, selesai subuhan aku kembali membaca buku hingga setengah tujuh, lalu aku menghubungi penyemangatku dengan panggilan video, senyuman yang ia berikan untukku menjadi pengantar mimpi indah dalam tidurku pagi ini.

Kaget juga aku baru bangun jam dua siang, padahal rasanya dari tadi sudah berkali-kali dibangunkan oleh ibu untuk makan dan shlat dzuhur tetapi karena akumulasi rasa kantuk kemarin dan tadi malam, aku kembali tidur. Setelah cuci muka dan shalat langsung saja makan –ternyata bisa lapar juga walaupun seharian hanya tidur saja hehe. Selesai makan, tentu saja yang aku lakukan adalah membaca buku lagi, aku memang sangat senang membaca buku yang baru aku miliki, aku bisa menghabiskan satu buku dalam satu hari, namun kali ini aku akan mencoba untuk mengaturnya sehingga membagi waktuku untuk menulis juga, aku akan membaca maksimal 100 halaman dalam sehari dan kemudian menulis minimal lima halaman sehari.

Malam ini aku kepikiran tentang visi yang pernah terlintas dalam diriku, yaitu “2020 Wonosobo Kota Seribu Penulis”. Betapa menyedihkannya ketika kemarin seorang pemuda yang sedang berjualan makanan di depan gedung bazar buku berkata kepadaku tentang minat baca masyarakat di Wonosobo yang begitu minim dan rendah, aku rasa itu tidak salah tetapi juga tidak benar sepenuhnya, karena ketika aku melihat kondisi perpustakaan daerah setiap hari banyak juga pengunjungnya –ya walaupun entah orang yang sama atau berbeda-beda tiap harinya, tetapi jika aku melihat kondisi di kampus memang daya baca mahasiswanya sedikit kurang daripada mahasiswa di daerah lain –terlebih lagi dengan Jogja. Ya mugkin jika dibandingkan kota-kota besar minat baca masyarakat sini memang kurang tetapi aku akan tetap optimis untuk bersama-sama dengan komunitas-komunitas sastra dan budaya di Wonosobo yang sedang bergairah ini untuk menyebarkan virus-virus kepenulisan dan minat membaca kepada masyarakat terutama generasi mudanya. 

Untuk mewujudkan apa yang telaah dicanangkan itu, maka aku akan membuat beberapa program yang berkaitan dengan proses kepenulisan, seperti catatan ini juga termasuk salah satunya. Aku akan bercerita apa adanya mengenai proses kepenulisanku di sini dan akan selalu aku update dan upload di media sosial, seperti blog dan facebook. Aku tidak akan malu untuk menceritakan bagaimana dan seperti apa tulisanku, karena aku selalu yakin bahwa menulis adalah pekerjaan yang mulia. Selain ini untuk mengasah daya cipta karya juga bisa dijadikan sebagai sharing pengalaman menulis kepada teman-teman yang suka menulis. Aku juga akan meminta saran dan masukan pada mereka dan akan sangat berterimakasih untuk yang bersedia memberikan masukan di komentar. Aku ingin catatanku ini bisa dijadikan sebagai bahan memancing diskusi tentang kepenulisan terutama untuk para penulis pemula seperti aku ini. 

Malam ini aku mambuat catatan: “Menulis adalah pekerjaan seorang Filsuf. Filsuf adalah orang yang mencintai kebijaksanaan, dalam islam disebut sebagai ahli hikmah; orang yang selalu mencari makna di setiap peristiwa/kaadaan, dan setiap penulis pasti melakukan hal itu. Oleh karena itu penulis adalah seorang filsuf, dan beruntunglah ia yang menjadi seorang penulis, karena ia selalu bisa memaknai segala hal dan mengambil kebijaksaan darinya.” Haha, mungkin terlalu berlebihan, akan tetapi inilah yang aku yakini dan aku jadikan sebagai penyemangat agar aku senantiasa bisa berkarya lewat tulisan. So, agar hidup lebih bermakna, ayo menulis! Dan bersama-sama mewujudkan Wonosobo menjadi ‘Kota Seribu Penulis’. Kedepannya aku yakin Wonosobo dan Indonesia akan menjadi sumber pusat peradaban mulia bagi dunia. :-)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamis, 20 Juli 2017

Rabu, 26 Juli 2017

Minggu, 10 September 2017