Minggu, 6 Agustus 2017
Minggu, 6 Agustus 2017
Pagi
ini aku baru saja tidur satu jam dari mulai pukul tujuh sampai pukul delapan
saat kemudian Mas Ardha membangunkan dan mengajakku untuk mengikuti seminar di
Wonosobo. Ajakan yang menarik saat aku sedang merasakan kejenuhan selama
beberapa minggu ini hanya mengurung diri di rumah, aku menyetujuinya dan segera
bergegas bersih-bersih diri, aku hanya mencuci muka dan bersih-bersih
seperlunya saja, aku tidak mandi karena takut masuk angin sebab malam tadi aku
tidak tidur. Aku juga menyiapkan buku yang aku pinjam dan akan aku kembalikan
nanti ke perpustakaan. Aku berangkat tanpa pamitan kepada Ibu –beliau sedang
pergi ke luar rumah entah kemana.
Seminar
yang aku ikuti ini ternyata adalah seminar motivasi untuk pemasaran dan
perekrutan member baru dari sebuah bisnis jaringan ternama di Indonesia dengan
produk kesehatan unggulannya. Sepertinya semesta sedang menyiapkan jalan untuk
langkahku karena aku kemarin baru saja membaca buku pengembangan diri mengenai
impian dan aku mendapatkan pemaparan mengenai impian itu di seminar ini juga –seperti
ilmu yang saling berkaitan yang bisa aku dapatkan dari sumber yang berbeda,
dalam seminar itu aku mendapatkan suatu kata yang sudah sering aku dengarkan
tetapi itu kembali mengingatkanku akan pentingnya sebuah impian, yaitu; “If you
don’t build your dream, someone will hire you to build theirs.” Jika kamu tidak
membangun impianmu maka oranglain akan memperkejakan kamu untuk membangun
impiannya. Suatu kata yang membuatku semakin mengingatkanku akan
impian-impianku terdahulu yang terlalu lama terlupakan olehku, dan aku akan
memperhatikannya kembali mulai saat ini, mungkin akan ada beberapa yang aku
ubah atau ada impian baru yang akan aku canangkan untuk merevisi impian yang
dulu pernah aku tuliskan.
Hari
ini aku juga mendapatkan jawaban atas apa yang aku risaukan kemarin mengenai solusi
bagaimana aku bisa kembali menemukan semangatku untuk menulis. Salah seorang
sahabatku yang juga merupakan seorang penyair yang kuliah jurusan sastra di Jogja
mengajakku untuk mengikuti acara semacam perjamuan sastra di pesta bazar buku Gramedia
yang sedang berlangsung di gedung Korpri Wonosobo, aku sangat ingin ikut serta
namun aku belum selesai acara seminarnya, terlebih lagi harus menunggu mas
Ardha untuk menyelesaikan meeting khusus member setelah seminar selesai, pada
akhirnya aku tidak bisa ikut acara temu sastra tersebut, namun adanya perhatian
dari beberapa teman yang sama-sama sedang melatih diri menjadi penulis ini juga
ternyata sudah mampu membangkitkan semangatku untuk segera melanjutkan
tulisanku yang sedang macet kemarin.
Selesai
acara seminar hingga hampir pukul empat sore, aku belum jadi ke Gramedia karena
harus ikut menemani mas Ardha ke kampus UNSIQ di Kalibeber, sampai di kampus
kami hanya melihat seberapa jauh perbedaan yang telah terjadi di kampus (mungkn
ini salah satu cara untuk mengobati rasa kecewa kami karena kami sama-sama
belum bisa menyelesaikan kuliah di sini). Kami lapar dan mencari tempat makan
di sekitar kalibeber, kami singgah di warung murah yang tidak jauh dari kampus,
kami makan di sana dan ngobrol mengenai apa rencana kedepan kami masing-masing,
aku jelas menjawabnya akan menulis di rumah sampai awal tahun 2018 dan
selanjutnya akan mulai pindah kehidupan di Jogja malanjutkan pembelajaran
menulis di Jogja adalah hal yang sangat aku inginkan, sedangkan ia akan membuka
bisnis penjualan susu segar di Parakan Temanggung. Kami ngobrol di warung itu
hingga menjelang maghrib.
Setelah
maghrib kami melanjutkan perjalanan, aku ke bazar buku dan mas Ardha menjemput
temannya. Betapa menyenangkannya berada di suatu ruangan yang penuh dengan
buku-buku, ini salah satu tempat favoritku dan pekerjaan paling menyenangkan di
tempat seperti ini adalah memburu buku, aku paling suka bisa menemukan buku
bagus di tumpukan buku-buku yang berserakan –bukan pada tumpukan buku
bestseller, aku perhatikan satu persatu buku yang ada di kumpulan buku yang
dijual dengan harga murah –kebanyakan memang berisi buku-buku populer remaja
atau majalah K-pop, setelah berlama-lama memperhatikan satu demi satu judul
buku, aku menemukan beberapa buku yang menurutku berkualitas bagus –aku curiga
sepertinya dari pihak gramedia memang menyelipkan buku-buku itu sebagai harta
karun bagi pembeli yang jeli karena buku itu adalah satu-satunya yang ada di
sana diantara buku-buku lain yang satu judulnya bisa berjumlah puluhan.
Aku menemukan
empat buku yang akhirnya aku beli dengan hanya seharga 40ribu rupiah, bukan
satu buku 40ribu tetapi 40ribu itu sudah total untuk membayar semuanya, jadi
rata-rata satu bukunya 10ribu –tentu saja sangat murah melihat kualitas buku
itu sesuai dengan yang sedang aku butuhkan atau memang aku cari. Keempat buku
ini adalah; ‘Menulis Fiksi itu Seksi’ karya Alberthiene Endah, ‘Perjamuan
Pasangan’ karya Ally Condie, ‘Seruak’ karya Vinca Callista, dan yang paling
sesuai dengan yang aku cari adalah ‘Maryam’ karya Okky Madasari. Buku-buku itu
hanya ada satu diantara banyaknya buku-buku lainnya, dan aku merasa bangga bisa
menemukannya, ini akan menjadi bahan belajarku untuk kembali menulis.
Ba’da
Isya kami kembali bersama lagi dan ngopi di pinggir jalan raya depan jalan
masuk pendopo kabupaten bagian barat. Puas ngopi kami ke Manggisan dan mandi
air hangat selama beberapa jam. Setelah itu sekitar pukul sepuluh malam kami
mampir ke warung susu segar yang berjualan di depan SMP satu seberang jalan
alun-alun bagian barat, di sana kami ngobrol mengenai proses penjualan susu
segar tersebut, ini sekaligus observasi dan wawancara untuk bekal pembukaan
warungnya mas Ardha ke depannya. Kami disuguhi susu itu dengan gratis, oh enak
sekali susu itu membuat dinginnya Wonosobo tidak begitu terasa di tubuh kami. Akhirnya
kami pulang dan sampai di rumah sekitar pukul setengah duabelas malam.
Ibu bapak yang memang
belum bisa tidur karena menantikanku segera menyambutku dengan membuatkan segelas
kopi dan menghidangkan makanan, aku merasa terharu sekali dengan sikap mereka,
padahal aku kan pergi seharian ini Cuma jalan-jalan saja, tetapi betapa
perhatiannya mereka sehingga menyambutku dan mengkhawatirkanku sebegitunya –terlebih
aku juga cowok. Ah, betapa memang kasih sayang orangtua itu tiada pernah ada
habisnya, sangat besar dan tulus. Terimakasih kedua malaikatku.
Komentar
Posting Komentar