Sabtu, 5 Agustus 2017


Sabtu, 5 Agustus 2017

Aku terkejut ketika melihat kalender telah menunjukkan angka lima di bulan Agustus ini, aku kira masih tanggal dua atau tiga, karena seperti baru kemarin aku tidur pada tanggal satu tetapi kini ternyata bangun sudah empat hari berlalu. Aku tidak sedang sakit atau pingsan atau tidak sadarkan diri, aku hanya sedang mengalami ketidaksadaran waktu yang menurutku terlalu cepat berlalu, apakah mungkin ini karena siklus hidupku yang tidak normal, aku tidak pernah tidur di waktu malam sampai sehabis subuh dan baru tidur sekitar pukul lima pagi hingga pukul duabelas siang. Mungkinkah karena ini aku merasakan waktu yang aku punyai ini begitu singkat, atau memang ini juga dirasakan oleh oranglain, atau karena aku tidak memanfaatkan waktuku dengan baik, terlalu asik menonton film dan bermain game seharian. Aku rasa sudah saatnya aku memperbaiki penggunaan waktu hidupku.

Kertas yang kemarin aku butuhkan untuk papan visi sudah ada, namun masih tergeletak di kamar dan belum jadi aku gunakan, aku akan mencatat apa susunan impian-impianku dalam buku terlebih dahulu, nanti aku akan mensortirnya dan mengurutkan mulai dari impian yang pertama sampai ke-seratus, namun sepertinya kertas itu takkan cukup, aku butuh satu sam[ai dua kertas lagi. Aku juga sudah mencari beberapa gambar yang sesuai dengan impianku itu lewat internet, namun masih baru beberapa saja, itu pun masih yang bersifat material, semisal mobil impian, rumah impian dan lainnya yang bersifat materi. Untuk profesi hingga tempat wisata yang aku kunjungi belum aku cari gambarnya, mungkin setelah ini aku akan langsung mencarinya.

Aku belum melanjutkan proyek menulisku, namun aku mengisi jadwal menulisku masih dengan kegiatan yang berhubungan dengannya, yaitu membaca. Aku sedang membaca sebuah buku motivasi yang bagus tentang bagaimana membangkitkan diri kembali setelah mengalami suatu keadaan hidup yang tidak seperti apa yang diharapkan. Aku membacanya dan aku kembali tersadar akan mimpi-mimpiku yang dahulu pernah aku tuliskan, beberapa tercapai namun juga beberapa tidak menjadi kenyataan –atau lebih tepatnya belum menjadi nyata. Membaca buku itu aku menjadi banyak merenung mengenai apa yang telah aku lakukan dan alami hingga kini, dan aku mengevaluasinya serta menuliskan beberapa catatan khusus tentang pelajaran apa yang bisa aku ambil dari itu semua, semisal; ‘Tak peduli seberapa kerasnya usaha kita dalam membangun kesuksesan hidup selama bertahun-tahun, ternyata bangunan yang telah kita rancang itu bisa ambruk hanya dalam waktu singkat saja, bahkan malangnya kita juga bisa ikut ambruk tertimpa reruntuhan itu. Tetapi seberapapun sakitnya kita saat terjatuh, kita harus bangkit kembali untuk membangun ulang kesuksesan tersebut, karena meskipun ada oranglain yang bersedia membantu kita untuk bangkit, takkan selamanya orang itu akan menuntun kita, kita harus memilih jalan perjuangan tersendiri untuk hidup kita tanpa harus melupakan jasanya.’

Selain membaca buku aku juga menonton kembali film drama Korea ‘Descandant of The Sun’ untuk yang kedua kalinya (dulu pertama kali aku menontonnya bersama Ozi di sela-sela waktu bakti sosial LDM di Kaliwiro). Dulu karena tidak begitu konsentrasi aku hanya menikmati dramanya tanpa melihat dengan jelas pelajaran apa yang bisa aku ambil darinya, dan sekarang aku sangat terpesona mengenai alur cerita dan bagaimana penulis naskah itu mengaitkan maslah satu demi satu hingga bisa memainkan emosi penonton saat menyaksikannya. Tentang bagaimana pula si pembuat bisa menyisipkan pesan moral dalam adegan super romantis kisah cinta antara tentara dan dokter yang begitu menjunjung tinggi profesionalitasnya. Aku kira banyak pemuda yang segera mengubah cita-citanya untuk menjadi tentara dan gadis-gadis akan tergila-gila untuk menjadi perawat atau dokter. Film ini akan sangat besar pengaruhnya, aku sendiri juga terinspirasi untuk menjadi sosok pria yang sejati dengan kecerdasan dan sikap ceria dari seorang Kapten Yoo Si Jin, atau menjadi seorang pria maskulin seperti Letnan Mayor Seo Dae Young yang tanpa banyak bicara tetapi bisa menemukan cara untuk begitu romantis dengan jantannya. Haha, aku mulai terserang virus dramatikal film, tetapi itu justru bagus, ini akan sangat membantu imajinasiku dalam membuat beberapa cerita nantinya. 

Aku malah kepikiran untuk membuat roman remaja di tengah-tengah proyek agustusku ini, pikiranku berlarian tak tentu arah karena terlalu banyak ide yang harus aku tuliskan. Tapi itu buruk bagiku karena belum selesai aku menyelesaikan satu ide menjadi tulisan, ide yang lain muncul membuat galau harus memilih yang mana. Adakah yang pernah mengalami hal seperti ini, bolehlah minta arahan dan solusinya hehe. Hari ini dia tidak tidur untuk menemani aku menulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamis, 20 Juli 2017

Rabu, 26 Juli 2017

Minggu, 10 September 2017